JAKARTA,Coretansatu.com – Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMMI) Maluku Utara kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap PT Smart Marsindo, perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah. SEMMI menuding perusahaan tersebut telah menipu masyarakat dengan narasi palsu pembangunan dan tanggung jawab sosial, padahal yang tersisa hanyalah kehancuran alam dan penderitaan warga.
Ketua SEMMI Malut, Sarjan Hi Rivai, dalam keterangannya, menyebut PT Smart Marsindo sudah terlalu sering mengemas pencitraan melalui proyek-proyek “CSR semu”, termasuk pembangunan SMA Negeri 3 Gebe yang diklaim sebagai bukti kepedulian perusahaan terhadap pendidikan. “Padahal, sekolah itu dibangun karena sekolah lama hancur akibat dampak aktivitas tambang mereka sendiri,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sebelum perusahaan itu beroperasi, kondisi lingkungan Pulau Gebe masih terjaga, gunung di sekitar kawasan sekolah masih hijau dan stabil. Namun sejak aktivitas tambang dimulai, lereng gunung di belakang SMA lama ambruk, tanah longsor terjadi, dan struktur sekolah rusak berat. “Mereka rusak dulu, baru datang pura-pura membangun,” ujarnya dengan nada geram.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Sarjan, langkah PT Smart Marsindo yang kembali melakukan kegiatan tambang di belakang pembangunan sekolah baru menunjukkan keserakahan tanpa batas. Sekolah pengganti belum rampung, tapi alat berat sudah kembali bekerja di area berisiko tinggi. “Ini sama saja dengan membiarkan bencana berikutnya terjadi,” tegas Ketua SEMMI.
Selain merusak lingkungan pendidikan, aktivitas tambang juga berdampak luas pada kehidupan masyarakat Pulau Gebe. Jalan umum kini berubah menjadi jalur tambang yang penuh dengan debu nikel, lumpur, dan kerusakan aspal. Kendaraan berat milik perusahaan lalu-lalang tanpa kendali, mengganggu keselamatan dan kenyamanan warga.
“Jangan seolah-olah masyarakat ini bodoh. Mereka tahu siapa yang bikin rusak jalan, siapa yang bikin longsor di gunung, dan siapa yang bikin debu nikel masuk sampai ke rumah warga,” kata Sarjan. Ia menilai PT Smart Marsindo telah mempermainkan logika publik dengan narasi tanggung jawab sosial yang menipu.
SEMMI juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah daerah maupun pusat terhadap aktivitas tambang di Pulau Gebe. Mereka menduga ada pembiaran sistematis terhadap pelanggaran lingkungan dan keselamatan warga yang dilakukan perusahaan. “Kalau tidak ada perlindungan dari pihak tertentu, perusahaan seperti ini tak akan seberani itu,” ungkap mereka.
SEMMI Malut mendesak Kementerian ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk segera turun tangan melakukan audit menyeluruh terhadap PT Smart Marsindo. Audit tersebut, kata mereka, harus mencakup aspek perusakan hutan, pencemaran tanah dan air, serta dampak sosial terhadap masyarakat sekitar area tambang.
“SEMMI Malut tidak akan diam melihat Pulau Gebe dihancurkan oleh kerakusan tambang,” tegas mereka. “Kami akan terus bersuara sampai ke KPK dan Presiden jika perlu. Sebab ini bukan sekadar soal nikel atau proyek, ini soal masa depan manusia, masa depan anak-anak Gebe yang dirampas oleh debu dan kebohongan.”
Editor : Admin.Coretansatu









