Ternate,Coretansatu.com — Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Provinsi Maluku Utara resmi mengukuhkan pengurus periode 2025–2029. Acara yang semula diproyeksikan sebagai seremoni olahraga justru berubah menjadi ruang refleksi filosofis ketika pengamat politik nasional, Rocky Gerung, hadir dan menyampaikan pandangan khasnya.
Dalam sambutannya, Rocky menafsirkan panjat tebing sebagai olahraga yang sarat simbol: disiplin, keberanian, dan kesetiaan pada aturan. Ia membandingkan panjat tebing dengan menyelam laut, dua gerak vertikal yang berbeda arah namun sama-sama menuntut kesadaran. “Yang naik pasti akan turun, yang turun pasti akan naik, dan keduanya bertemu di cakrawala. Panjat tebing itu bukan sekadar olahraga, tapi latihan memahami hidup,” ujarnya.
Lebih jauh, Rocky menegaskan bahwa pengukuhan pengurus bukan hanya formalitas. “Pelantikan itu administratif, tapi pengukuhan adalah komitmen batin untuk melahirkan prestasi. Di panjat tebing, disiplin adalah napas hidup. Tanpa itu, keselamatan pun mustahil dicapai,” tegasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga membeberkan inisiatif FPTI yang tengah mendokumentasikan 100 tebing alam Indonesia untuk dijadikan buku foto dan dipamerkan di bandara internasional. Tujuannya jelas: memperkenalkan panjat tebing sebagai identitas olahraga Indonesia ke mata dunia. Harapannya, Maluku Utara tidak hanya menjadi tuan rumah tebing indah, tetapi juga lumbung atlet berprestasi.
“Setelah emas Olimpiade Paris 2024, kita menatap Los Angeles 2028. Siapa tahu ada nama dari Maluku Utara di sana,” tambah Rocky.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Laos menegaskan dukungan penuh Pemprov Malut terhadap pengembangan panjat tebing. Baginya, olahraga ini bukan hanya soal medali, melainkan juga peluang ekonomi baru. “Tebing-tebing Maluku Utara jangan hanya berhenti sebagai latar foto Instagram. Ia harus menjadi magnet wisata dan mesin penggerak perekonomian,” ungkap Sherly dengan penuh penekanan.
Pertemuan Sherly Laos dan Rocky Gerung di panggung olahraga malam itu memberi sinyal bahwa panjat tebing bisa menjelma lebih dari sekadar cabang olahraga. Ia bisa menjadi metafora kebudayaan, ruang persilangan politik dan ekonomi, sekaligus simbol disiplin hidup bagi generasi baru Maluku Utara.
Editor : Admin Coretansatu.com









