Gubernur Maluku Utara Diduga Kuasai 71 Persen Saham Tambang Nikel di Pulau Gebe ‎

- Penulis Berita

Senin, 15 September 2025 - 05:15

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎Ternate, Coretansatu.com– Publik Maluku Utara diguncang kabar mengejutkan. Gubernur Sherly Tjoanda disebut menguasai 71 persen saham sebuah perusahaan tambang nikel, PT Karya Wijaya. Fakta ini sontak menimbulkan tanda tanya besar: bagaimana mungkin seorang kepala daerah, yang seharusnya menjadi pengawas dan pengendali izin tambang, justru menjadi pemilik mayoritas saham.

‎Dugaan konflik kepentingan ini bukan sekadar persoalan etika. Ia menabrak Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Undang-Undang Minerba. Lebih jauh, praktik semacam ini berpotensi menggerus kas negara hingga triliunan rupiah sekaligus merusak ekosistem Pulau Gebe sebuah pulau kecil yang secara hukum semestinya dilindungi.

‎Berdasarkan data resmi, PT Karya Wijaya memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP) pada 2020, di era Gubernur Abdul Gani Kasuba, dengan konsesi awal seluas 500 hektare yang berlaku hingga 2040. Namun, pada Januari 2025, izin itu melejit diperluas menjadi 1.145 hektare mencakup Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, dengan perpanjangan hingga 2036.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

‎‎“Ini bentuk pelanggaran etika dan hukum yang serius. Gubernur punya kewenangan mencabut izin, termasuk milik perusahaannya sendiri. Bagaimana publik bisa percaya pada integritas pejabat yang justru bermain di area abu-abu hukum?” ujar praktisi hukum Mahri Hasan.

‎‎PT Karya Wijaya diketahui berstatus non-Clean and Clear (non-CnC) dalam sistem Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM. Lebih dari itu, perusahaan ini diduga beroperasi tanpa Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH), tanpa jaminan reklamasi pasca tambang, bahkan tanpa izin pembangunan jetty.

‎‎Laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI tertanggal 24 Mei 2024 mempertegas temuan: terdapat dugaan pelanggaran administratif, teknis, dan finansial yang menimbulkan potensi kerugian negara. Jumlahnya? Diperkirakan mencapai triliunan rupiah, terutama akibat ketidakpatuhan membayar pajak dan royalti.

‎‎Kerugian negara hanyalah satu sisi. Sisi lain, yang lebih menyayat, adalah penderitaan masyarakat Pulau Gebe.

‎‎“Sudah setahun lebih kami kesulitan air bersih, dan ikan di laut makin sedikit,” keluh Hasnim (42), warga setempat. Bagi warga pulau kecil ini, tambang bukan hanya soal nikel, ia soal hidup dan mati.

‎Hingga berita ini diturunkan, Gubernur Sherly Tjoanda belum memberi tanggapan resmi. Upaya konfirmasi media tidak berhasil, dengan alasan gubernur tengah disibukkan agenda dinas.

‎Namun, gubernur tidak menyurutkan riuh desakan publik. DPD Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) Maluku Utara menyatakan akan menggelar aksi besar-besaran di sejumlah lembaga negara.

‎“Kami akan mendesak Kejaksaan Tinggi Maluku Utara untuk segera memanggil gubernur, mencabut izin PT Karya Wijaya, dan menyeret seluruh pihak yang terlibat ke meja hijau,” tegas Ketua GPM, Sartono Halek.

‎‎Kasus ini menjadi cermin rapuhnya tata kelola tambang di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto sendiri baru-baru ini menegaskan komitmen memberantas tambang ilegal. Catatan resmi menyebut, ada lebih dari 1.063 tambang ilegal dengan potensi kerugian negara sedikitnya Rp300 triliun.

‎‎“Pemerintah harus tegas dan konsisten menegakkan hukum tanpa pandang bulu,” seru Mahri Hasan.

‎‎Kini, semua mata tertuju pada aparat penegak hukum. Akankah kasus ini menjadi momentum bersih-bersih tambang, atau justru menambah daftar panjang impunitas pejabat publik.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Sumber Berita : Wahyu MS

Berita Terkait

CV Abdi Nusantara Menang Tender MIN Halbar, Hendra Kariangan: Wajib Hukumnya Kontrak Dijalankan!
Proyek MIN Halbar Rp3,6 M Mandek, Kakanwil Kemenag Malut Buka Suara Alasan Tender Ulang
Amsar Bantah Jual BBM Subsidi, Bungkam Soal Penjualan Dexlite
Akui Timbun BBM, Amsar Diduga Jual Solar BBM Subsidi Dari QR Code 11 Mobil Expedisi
Dugaan Bisnis Ampas Emas Ilegal di Halsel Seret Nama Oknum Polisi Berinisial LA
Proyek MIN Halbar Rp3,6 Miliar Terhambat, Kakanwil Kemenag Malut Diduga Intervensi Pemenang Tender
Kontraktor Minta Inspektorat Periksa Pokja III Malut
Kontroversi Kades Sawadai Halsel: Berulang Kali Terseret Kasus Moral, Mengaku Tak Takut Sanksi Bupati

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:50

CV Abdi Nusantara Menang Tender MIN Halbar, Hendra Kariangan: Wajib Hukumnya Kontrak Dijalankan!

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:17

Proyek MIN Halbar Rp3,6 M Mandek, Kakanwil Kemenag Malut Buka Suara Alasan Tender Ulang

Selasa, 21 Juli 2026 - 06:21

Amsar Bantah Jual BBM Subsidi, Bungkam Soal Penjualan Dexlite

Senin, 20 Juli 2026 - 16:18

Akui Timbun BBM, Amsar Diduga Jual Solar BBM Subsidi Dari QR Code 11 Mobil Expedisi

Senin, 20 Juli 2026 - 15:23

Dugaan Bisnis Ampas Emas Ilegal di Halsel Seret Nama Oknum Polisi Berinisial LA

Senin, 20 Juli 2026 - 10:13

Kontraktor Minta Inspektorat Periksa Pokja III Malut

Jumat, 17 Juli 2026 - 12:45

Kontroversi Kades Sawadai Halsel: Berulang Kali Terseret Kasus Moral, Mengaku Tak Takut Sanksi Bupati

Jumat, 17 Juli 2026 - 06:11

Gelar Penyuluhan di Desa Baru, Polsek Obi Ajak Pelajar SMPN 13 Halsel Perangi Judol dan Napza

Berita Terbaru

Foto: istimewa

Maluku Utara

Amsar Bantah Jual BBM Subsidi, Bungkam Soal Penjualan Dexlite

Selasa, 21 Jul 2026 - 06:21