Morowali,Coretansatu.com – Api amarah warga akhirnya meledak di Kabupaten Morowali. Sebuah kantor perusahaan tambang nikel dilaporkan dibakar warga pada malam hari, sebagai puncak kekecewaan mendalam terhadap penangkapan seorang aktivis lingkungan yang selama ini lantang mengkritik aktivitas pertambangan di wilayah tersebut,Rabu/07/01/2026.
Peristiwa pembakaran itu terjadi di tengah situasi panas antara masyarakat dan perusahaan tambang yang dituding merampas ruang hidup warga. Api yang melahap bangunan kantor tambang menjadi simbol kemarahan rakyat yang merasa terus ditekan, namun tak pernah dilindungi oleh negara.
Warga menyebut aksi ini bukan tanpa sebab. Penangkapan aktivis yang selama ini berdiri di barisan terdepan melawan dugaan praktik tambang bermasalah dinilai sebagai bentuk pembungkaman suara rakyat. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, kepercayaan publik pun runtuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam berbagai kesaksian, warga mengaku muak dengan kelakuan pemerintah dan aparat penegak hukum yang dianggap lebih berpihak kepada kepentingan pemodal ketimbang keselamatan dan hak-hak masyarakat lokal. Negara dituding hadir hanya untuk melindungi tambang, bukan rakyat.
Aktivitas pertambangan nikel di Morowali selama ini menuai sorotan tajam. Dugaan kerusakan lingkungan, pencemaran air, hingga perampasan lahan disebut terjadi secara masif, namun penindakan tegas nyaris tak pernah menyentuh aktor-aktor utama di balik operasi tambang tersebut.
Situasi memanas ketika aparat justru menangkap aktivis yang vokal menyuarakan persoalan lingkungan dan ketidakadilan. Penangkapan itu menjadi pemicu kemarahan warga yang merasa perjuangan mereka dikriminalisasi, sementara mafia tambang terus bebas beroperasi.
Aksi pembakaran kantor tambang ini sekaligus menjadi sinyal bahaya bagi pemerintah. Ketika ruang dialog ditutup dan keadilan tak lagi dirasakan, kemarahan sosial bisa berubah menjadi ledakan yang sulit dikendalikan dan berpotensi meluas.
Sejumlah warga menegaskan bahwa mereka tidak membenarkan kekerasan, namun menilai tindakan tersebut lahir dari keputusasaan panjang. Mereka mendesak pemerintah pusat dan aparat penegak hukum segera mengevaluasi total perizinan tambang dan menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi negara. Jika mafia tambang terus dibiarkan dan rakyat dipaksa berjuang sendiri, maka konflik sosial serupa dikhawatirkan akan kembali terjadi. Morowali kini bukan sekadar soal tambang, melainkan potret krisis keadilan yang nyata.
Editor : Editor_Coretansatu








