Gaji Tinggi, Cinta Tergadai: Tragedi Pekerja Tambang di IWIP Berujung Penyesalan”

- Penulis Berita

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 12:21

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ulis Juleha dan Rina

Foto: Ulis Juleha dan Rina

HALTENG,Coretansatu.com – Ulis menatap laut yang biru pekat dari jendela kontrakannya di Teluk Weda. Angin asin berhembus lembut, membawa aroma laut yang dulu selalu

menenangkan. Namun kini, hanya sesal yang terasa di dadanya. Sudah enam bulan ia merantau, bekerja keras di industri pertambangan nikel PT IWIP, Halmahera Tengah. Gajinya lumayan besar, cukup untuk mengirim uang rutin kepada istrinya, Juleha, yang setia menanti di kampung halaman. Tapi, bukan hanya uang yang ia kirim dari tanah rantau, melainkan juga benih-benih pengkhianatan.

Hubungan Ulis dan Juleha memang sudah lama terasa hambar. Juleha terlalu sibuk mengurus rumah dan anak-anak, sementara Ulis merasa semakin jauh dari kehangatan yang dulu membuatnya jatuh cinta. Rasa bosan dan sepi mulai menggerogoti hatinya. Di lingkungan kerja yang keras dan jauh dari keluarga, Ulis mulai mencari pelampiasan. Hingga akhirnya, ia menemukan kenyamanan baru pada seorang rekan kerja bernama Rina, perempuan dari departemen logistik yang pandai merayu dan memberi perhatian, sesuatu yang sudah lama tak ia dapatkan dari Juleha.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari-hari pun berlalu dengan penuh kebohongan. Ulis semakin terjerat dalam hubungan gelap itu. Setiap pesan singkat, setiap tatapan curi-curi di sela jam kerja, membuatnya merasa muda kembali. Ia percaya bahwa Rina adalah pelarian yang tepat dari kebosanan hidup rumah tangganya.

Puncaknya, enam bulan setelah keberangkatannya, Ulis mengambil keputusan nekat. Ia menelepon Juleha bukan untuk memberi kabar baik, melainkan untuk menyampaikan pengakuan dingin yang memecah seluruh kesetiaan yang telah dibangun bertahun-tahun.

“Leha,” suara Ulis bergetar di ujung telepon. “Aku tidak bisa lagi bersamamu. Aku sudah punya pilihan lain di sini.”

Hening. Hanya napas berat yang terdengar di seberang. Keheningan itu jauh lebih menyakitkan dari makian apa pun. Lalu suara Juleha terdengar, bergetar, menahan tangis dan amarah yang bercampur menjadi satu.

“Kau… kau tega, Lis? Setelah semua ini? Setelah aku menunggumu dengan setia?”

Ulis menelan ludah, berusaha terdengar tenang.

“Maaf, Leha. Aku akan tetap kirim uang untuk anak-anak.”

Namun jawaban Juleha memukulnya keras.

“Simpan saja uangmu! Aku tak butuh uang haram dari hasil air mataku!”

Sambungan telepon terputus. Ulis terpaku. Ia merasa lega sekaligus hampa. Ia pikir, dengan memutuskan Juleha, beban hidupnya akan berkurang. Nyatanya, yang tersisa hanya kekosongan.

Namun kebahagiaan yang ia cari dari Rina tak berlangsung lama. Saat Ulis mulai serius dan berniat mengajaknya tinggal bersama, sikap Rina berubah dingin. Ia mulai menghindar, berdalih sibuk, dan perlahan menjauh. Hingga suatu malam, Ulis mendengar kabar bahwa Rina sebenarnya sudah memiliki tunangan di kota lain. Saat itulah dunia Ulis mulai runtuh.

Keterpurukan bertambah ketika di tempat kerja, kinerjanya mulai menurun drastis. Pengawas lapangan, seorang pria Tionghoa yang dikenal keras dan disiplin, berulang kali menegurnya. Teguran itu terasa seperti cambuk di tengah hatinya yang sudah luka. Suatu hari, ketika emosi dan frustrasi memuncak, keduanya terlibat adu mulut di area kerja.

Pengawas itu menegurnya dengan suara lantang di depan rekan-rekan lain. Harga diri Ulis tersulut. Tanpa pikir panjang, ia melayangkan pukulan keras ke wajah atasannya. Semua orang terdiam. Detik itu juga, Ulis sadar bahwa ia telah melewati batas. Tapi penyesalan selalu datang terlambat.

Keesokan harinya, surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari PT IWIP sudah ada di tangannya. Ia dipecat secara tidak hormat karena tindakan kekerasan dan indisipliner. Uang pesangon yang ia terima tak sebanding dengan masa depan yang hilang.

Sejak saat itu, hidup Ulis berubah menjadi gelap. Rina meninggalkannya, pekerjaannya lenyap, dan martabatnya hancur. Ia mulai menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia buat. Ia bukan hanya kehilangan pekerjaan dan kekasih gelapnya, ia kehilangan keluarga yang sebenarnya selalu mencintainya.

Dengan hati remuk, Ulis memutuskan pulang ke kampung halaman. Di perjalanan pulang, setiap bayangan wajah Juleha dan anak-anak menyesakkan dadanya. Ia ingin meminta maaf, tapi kata-kata terasa tak cukup menebus semua luka yang ia torehkan.

Sesampainya di depan rumah, Ulis berdiri lama di depan pintu yang dulu selalu menyambutnya dengan senyum hangat. Kini pintu itu tertutup rapat, seolah menolak kehadirannya. Dari dalam terdengar suara anak-anaknya bermain, suara yang dulu membuatnya bahagia.

Ulis mengetuk perlahan. Pintu terbuka, dan Juleha berdiri di sana, wajahnya pucat, matanya sayu, tapi tegas.

“Untuk apa kau kembali, Lis?” tanyanya datar.

Ulis menunduk, air mata mulai menetes di pipinya.

“Aku… aku hanya ingin meminta maaf, Leha. Aku salah. Aku kehilangan segalanya karena kebodohanku sendiri.”

Juleha menatapnya lama, lalu menghela napas berat.

“Penyesalanmu tak akan bisa menghapus luka yang kau buat. Tapi demi anak-anak, aku takkan menutup pintu. Bukan untuk cinta, tapi untuk tanggung jawab.”

Ulis terisak, sujud di hadapan Juleha, menyesali semuanya. Ia tahu, tak akan ada lagi cinta seperti dulu. Namun setidaknya, ia masih punya kesempatan untuk menebus kesalahan, bukan dengan kata, tapi dengan perbuatan.

Malam itu, di bawah langit kampung yang sunyi, Ulis sadar: tidak ada pengkhianatan yang berakhir bahagia. Semua kebohongan pada akhirnya akan menuntut harga yang teramat mahal, dan penyesalan selalu datang ketika segalanya sudah terlambat.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Berita Terkait

Cinta yang Diremehkan, Harga Diri yang Diuji
Trauma Cinta di Weda, Pelarian ke Pulau Obi: Mampukah Ais Temukan Kedamaian?”
Coretan Luka di IWIP: Cinta Segitiga Berujung Tragis di Dermaga Lama
Kesunyian di Trans Kobe: Hidup Baru Ais Setelah Hari Kelam
Di Balik Gemerlap Gaji Tinggi, PT IWIP Simpan Luka Rumah Tangga: Banyak Pasangan Retak Karena Perselingkuhan
Cinta Yang Mengkhianati Darah Sendiri: Luka Yang Lahir Dari Tambang HUAFEI Maluku Utara

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 05:24

Buntut Dugaan Tambang Ilegal, Kades Kubung Halsel Disorot Soal Kepemilikan Tromol Emas

Rabu, 22 April 2026 - 04:52

Proyek SPAM Rp8.8 Miliar di Halut Disorot: SEMMI Malut Minta Kepala BPBPK Dicopot 

Selasa, 21 April 2026 - 09:30

BWS Malut Dinilai Tak Bertaring Evaluasi PPK, FORMAPAS Bakal Laporkan Proyek Rp. 42 Miliar ke KPK 

Selasa, 21 April 2026 - 05:49

Formapas Malut Desak Satgas PKH Tindak Tegas Aktivitas Tambang Yang Melakukan Kerusakan Lingkungan di Pulau Taliabu.

Minggu, 19 April 2026 - 14:47

Begini Pesan Ketum di Muscab PKB Halsel: Kader Harus Peka Dampak Ekonomi dan Hadirkan Solusi

Minggu, 19 April 2026 - 08:15

Komitmen Harita Nickel Kembangkan Talenta Lokal, 10 Pemuda Obi Jadi Mekanik Tambang

Sabtu, 18 April 2026 - 14:59

Tambang Ilegal Doko Jadi Sarang Miras dan Judi, BARAH Desak Polda Malut Segera Tutup

Sabtu, 18 April 2026 - 03:14

Polisi Dalami Temuan Mayat di Kawasi, Masyarakat Diminta Tidak Berspekulasi

Berita Terbaru