Cinta Yang Mengkhianati Darah Sendiri: Luka Yang Lahir Dari Tambang HUAFEI Maluku Utara

- Penulis Berita

Selasa, 21 Oktober 2025 - 15:57

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALTENG,Coretansatu.com — Di tengah gemuruh mesin tambang dan debu yang menutup langit Halmahera Tengah, tersembunyi kisah yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun. Kisah tentang cinta, pengkhianatan, dan darah yang menodai ikatan keluarga.

Rais adalah satu dari ratusan buruh tambang di industri HUAFEI, Maluku Utara. Setiap hari, tubuhnya bergulat dengan panas, besi, dan waktu. Namun di balik kerasnya hidup tambang, ada satu hal yang membuatnya bertahan, Kamlea, gadis sederhana penjual es jendol di depan gerbang perusahaan.

Bagi Rais, Kamlea bukan sekadar kekasih. Ia adalah rumah di tengah badai. Dalam senyum Kamlea yang tenang, Rais menemukan alasan untuk terus hidup, meski dunia tambang kerap memperlakukan manusia seperti mesin.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sore itu, shift kerja Rais berakhir lebih cepat dari biasanya. Wajahnya cerah, langkahnya ringan. Di tangannya, sebuah parfum kecil tergenggam erat, hadiah sederhana untuk wanita yang ia cintai. Ia berniat memberikan kejutan kecil, sesuatu yang ia beli dari sisa lembur semalam.

Saat menghubungi Kamlea, suaranya dipenuhi semangat. “Kita ketemu sore ini ya, aku pengin ngajak kamu jalan.” Kamlea menyambutnya lembut, meski meminta agar mereka bertemu di tempat yang tenang. Permintaan yang terdengar biasa, tapi kelak mengubah segalanya.

Rais kemudian teringat sepupunya, Fauzan, pegawai bagian administrasi di HUAFEI yang tinggal di kosan yang lebih sepi. Karena tahu Fauzan sedang shift malam, Rais berpikir tempat itu cocok untuk sekadar berbincang santai. “Kita ke kosannya Fauzan aja, dia pasti belum pulang,” ucapnya. Kamlea mengangguk.

Malam itu, Rais menjemput Kamlea. Gadis itu tampil manis, mengenakan kemeja yang dulu pernah Rais hadiahkan. Namun nasib, seperti tambang yang menyimpan bara di dalam tanah, mulai menyiapkan letupan yang tak terlihat.

Belum lama mereka duduk di ruang tamu, pintu kos tiba-tiba terbuka. Fauzan pulang lebih cepat dari jadwal. Wajahnya kaget namun segera tersenyum. “Loh, Rais? Udah di sini? Kenapa nggak bilang mau bawa tamu?” ucapnya sambil menatap Kamlea. Dalam tatapan itu, ada jeda aneh, singkat tapi mengguncang.

Rais memperkenalkan mereka tanpa curiga. “Ini Kamlea, pacarku. Kamlea, ini Fauzan, sepupuku.” Suasana malam terasa biasa, tawa mereka pecah ringan. Tapi di balik itu, sesuatu mulai tumbuh diam-diam, sesuatu yang kelak akan menghancurkan semuanya.

Hari-hari berikutnya, Fauzan sering datang ke gerobak es jendol. Alasannya sederhana: membeli es, menitip salam, atau sekadar menanyakan kabar Rais. Kamlea yang sering merasa sepi karena Rais sibuk, mulai terbiasa dengan kehadiran Fauzan. Dari kebiasaan, lahir kenyamanan. Dari kenyamanan, lahir keinginan yang terlarang.

Cinta gelap itu tumbuh dalam diam. Mereka tahu salah, tapi hati kadang tak kenal aturan. Dalam tatapan Fauzan, Kamlea melihat perhatian yang tak pernah sempat ia dapatkan dari Rais. Dalam senyum Kamlea, Fauzan merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar godaan.

Hingga suatu hari, Rais memutuskan mengambil cuti. Ia ingin memberi kejutan. Dengan hati berdebar, ia membawa bingkisan kecil berisi parfum favorit Kamlea, berharap menciptakan momen romantis yang sudah lama tertunda.

Tapi ketika ia tiba di kos Kamlea, pintu kamar itu tidak terkunci. Ia mengetuk pelan, lalu mendorongnya perlahan. Di dalam, waktu seolah berhenti, Kamlea dan Fauzan duduk berdekatan, tangan mereka saling menggenggam erat.

Rais terpaku. Dunia yang selama ini ia bangun dengan cinta runtuh dalam sekejap. Kamlea menunduk, suaranya gemetar. “Rais… maaf.” Fauzan hanya berdiri kaku, menatap tanpa kata, tapi pandangan matanya tajam, seperti menghapus semua persaudaraan yang pernah ada.

Dengan tangan gemetar, Rais meletakkan bingkisan parfum di meja. “Aku cuma mau kasih ini,” ucapnya lirih. Parfum kecil itu, yang tadinya simbol cinta, kini terasa seperti serpihan kaca di dada.

Sore itu, di antara aroma besi, debu tambang, dan angin kering yang menggigit kulit, Rais berjalan pergi. Cinta berubah jadi luka. Kepercayaan jadi abu. Dan dari tambang HUAFEI, lahirlah satu kisah getir tentang cinta yang mengkhianati darah sendiri.

💔 Tagline Penutup:

 Di antara gemuruh mesin tambang dan keringat para pekerja, tersimpan kisah bahwa kadang, yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan orang lain, tapi pengkhianatan dari darah sendiri.

Facebook Comments Box

Editor : Admin.Coretansatu

Sumber Berita : Taslim Barakati

Berita Terkait

Cinta yang Diremehkan, Harga Diri yang Diuji
Gaji Tinggi, Cinta Tergadai: Tragedi Pekerja Tambang di IWIP Berujung Penyesalan”
Trauma Cinta di Weda, Pelarian ke Pulau Obi: Mampukah Ais Temukan Kedamaian?”
Coretan Luka di IWIP: Cinta Segitiga Berujung Tragis di Dermaga Lama
Kesunyian di Trans Kobe: Hidup Baru Ais Setelah Hari Kelam
Di Balik Gemerlap Gaji Tinggi, PT IWIP Simpan Luka Rumah Tangga: Banyak Pasangan Retak Karena Perselingkuhan

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:09

Buntut Pembatalan Pemenang Proyek MIN Halbar Rp3,6 Miliar, Dugaan Intervensi Kakanwil Kemenag Malut Jadi Sorotan

Rabu, 22 Juli 2026 - 04:24

Polres Halsel Kantongi Hasil Visum Kasus Penganiayaan Guru PPPK, Tersangka Ditetapkan Pekan Depan

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:04

Puskesmas Yaba Dinilai Tak Lagi Memadai, Warga Harap Bupati Bassam Prioritaskan Pembangunan

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:50

CV Abdi Nusantara Menang Tender MIN Halbar, Hendra Kariangan: Wajib Hukumnya Kontrak Dijalankan!

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:17

Proyek MIN Halbar Rp3,6 M Mandek, Kakanwil Kemenag Malut Buka Suara Alasan Tender Ulang

Senin, 20 Juli 2026 - 16:18

Akui Timbun BBM, Amsar Diduga Jual Solar BBM Subsidi Dari QR Code 11 Mobil Expedisi

Senin, 20 Juli 2026 - 15:23

Dugaan Bisnis Ampas Emas Ilegal di Halsel Seret Nama Oknum Polisi Berinisial LA

Senin, 20 Juli 2026 - 11:11

Proyek MIN Halbar Rp3,6 Miliar Terhambat, Kakanwil Kemenag Malut Diduga Intervensi Pemenang Tender

Berita Terbaru