HALTENG,Coretansatu.com — Di tengah gemuruh mesin tambang dan debu yang menutup langit Halmahera Tengah, tersembunyi kisah yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun. Kisah tentang cinta, pengkhianatan, dan darah yang menodai ikatan keluarga.
Rais adalah satu dari ratusan buruh tambang di industri HUAFEI, Maluku Utara. Setiap hari, tubuhnya bergulat dengan panas, besi, dan waktu. Namun di balik kerasnya hidup tambang, ada satu hal yang membuatnya bertahan, Kamlea, gadis sederhana penjual es jendol di depan gerbang perusahaan.
Bagi Rais, Kamlea bukan sekadar kekasih. Ia adalah rumah di tengah badai. Dalam senyum Kamlea yang tenang, Rais menemukan alasan untuk terus hidup, meski dunia tambang kerap memperlakukan manusia seperti mesin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sore itu, shift kerja Rais berakhir lebih cepat dari biasanya. Wajahnya cerah, langkahnya ringan. Di tangannya, sebuah parfum kecil tergenggam erat, hadiah sederhana untuk wanita yang ia cintai. Ia berniat memberikan kejutan kecil, sesuatu yang ia beli dari sisa lembur semalam.
Saat menghubungi Kamlea, suaranya dipenuhi semangat. “Kita ketemu sore ini ya, aku pengin ngajak kamu jalan.” Kamlea menyambutnya lembut, meski meminta agar mereka bertemu di tempat yang tenang. Permintaan yang terdengar biasa, tapi kelak mengubah segalanya.
Rais kemudian teringat sepupunya, Fauzan, pegawai bagian administrasi di HUAFEI yang tinggal di kosan yang lebih sepi. Karena tahu Fauzan sedang shift malam, Rais berpikir tempat itu cocok untuk sekadar berbincang santai. “Kita ke kosannya Fauzan aja, dia pasti belum pulang,” ucapnya. Kamlea mengangguk.
Malam itu, Rais menjemput Kamlea. Gadis itu tampil manis, mengenakan kemeja yang dulu pernah Rais hadiahkan. Namun nasib, seperti tambang yang menyimpan bara di dalam tanah, mulai menyiapkan letupan yang tak terlihat.
Belum lama mereka duduk di ruang tamu, pintu kos tiba-tiba terbuka. Fauzan pulang lebih cepat dari jadwal. Wajahnya kaget namun segera tersenyum. “Loh, Rais? Udah di sini? Kenapa nggak bilang mau bawa tamu?” ucapnya sambil menatap Kamlea. Dalam tatapan itu, ada jeda aneh, singkat tapi mengguncang.
Rais memperkenalkan mereka tanpa curiga. “Ini Kamlea, pacarku. Kamlea, ini Fauzan, sepupuku.” Suasana malam terasa biasa, tawa mereka pecah ringan. Tapi di balik itu, sesuatu mulai tumbuh diam-diam, sesuatu yang kelak akan menghancurkan semuanya.
Hari-hari berikutnya, Fauzan sering datang ke gerobak es jendol. Alasannya sederhana: membeli es, menitip salam, atau sekadar menanyakan kabar Rais. Kamlea yang sering merasa sepi karena Rais sibuk, mulai terbiasa dengan kehadiran Fauzan. Dari kebiasaan, lahir kenyamanan. Dari kenyamanan, lahir keinginan yang terlarang.
Cinta gelap itu tumbuh dalam diam. Mereka tahu salah, tapi hati kadang tak kenal aturan. Dalam tatapan Fauzan, Kamlea melihat perhatian yang tak pernah sempat ia dapatkan dari Rais. Dalam senyum Kamlea, Fauzan merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar godaan.
Hingga suatu hari, Rais memutuskan mengambil cuti. Ia ingin memberi kejutan. Dengan hati berdebar, ia membawa bingkisan kecil berisi parfum favorit Kamlea, berharap menciptakan momen romantis yang sudah lama tertunda.
Tapi ketika ia tiba di kos Kamlea, pintu kamar itu tidak terkunci. Ia mengetuk pelan, lalu mendorongnya perlahan. Di dalam, waktu seolah berhenti, Kamlea dan Fauzan duduk berdekatan, tangan mereka saling menggenggam erat.
Rais terpaku. Dunia yang selama ini ia bangun dengan cinta runtuh dalam sekejap. Kamlea menunduk, suaranya gemetar. “Rais… maaf.” Fauzan hanya berdiri kaku, menatap tanpa kata, tapi pandangan matanya tajam, seperti menghapus semua persaudaraan yang pernah ada.
Dengan tangan gemetar, Rais meletakkan bingkisan parfum di meja. “Aku cuma mau kasih ini,” ucapnya lirih. Parfum kecil itu, yang tadinya simbol cinta, kini terasa seperti serpihan kaca di dada.
Sore itu, di antara aroma besi, debu tambang, dan angin kering yang menggigit kulit, Rais berjalan pergi. Cinta berubah jadi luka. Kepercayaan jadi abu. Dan dari tambang HUAFEI, lahirlah satu kisah getir tentang cinta yang mengkhianati darah sendiri.
💔 Tagline Penutup:
Di antara gemuruh mesin tambang dan keringat para pekerja, tersimpan kisah bahwa kadang, yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan orang lain, tapi pengkhianatan dari darah sendiri.
Editor : Admin.Coretansatu
Sumber Berita : Taslim Barakati








