Cinta yang Diremehkan, Harga Diri yang Diuji

- Penulis Berita

Kamis, 8 Januari 2026 - 06:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, AJI dengan wanitanya saling menunjukkan kesetiaan mereka

Foto, AJI dengan wanitanya saling menunjukkan kesetiaan mereka

Coretansatu.com – AJI bukanlah penjahat, bukan pula pemalas. Ia hanyalah seorang pria biasa yang sedang berjuang di fase hidup yang belum berpihak kepadanya. Namun dunia kerap kejam dalam menilai—seolah harga seorang manusia hanya ditentukan oleh pekerjaan tetap, kartu nama, dan angka di rekening bank.

Setiap hari AJI melangkah dengan harapan yang sering kali dipatahkan. Ia mencari pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain, menelan penolakan demi penolakan, menyimpan rasa malu yang tak pernah ia pamerkan. Ia berjuang bukan untuk bergaya, melainkan sekadar bertahan hidup. Dunia lupa bahwa usaha tak selalu langsung berbuah hasil.

Penderitaannya tak berhenti di luar rumah. Di balik hubungan cintanya, AJI harus berhadapan dengan tembok dingin bernama restu keluarga. Keluarga kekasihnya memandang statusnya sebagai aib—belum mapan, belum punya apa-apa, dan dianggap membawa masa depan yang suram bagi anak perempuan mereka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia diposisikan seolah tak layak dicintai. Seolah cinta harus lulus uji materi sebelum boleh tumbuh. Setiap langkahnya diawasi dengan curiga, setiap kekurangannya diperbesar, hingga keberadaannya dianggap sebagai penghalang kebahagiaan.

Desakan demi desakan pun datang. Keluarga sang perempuan menawarkan pilihan lain—pria-pria mapan, bergelimang harta, memiliki segalanya yang menurut ukuran dunia pantas disebut masa depan cerah. Seakan cinta hanyalah transaksi, dan pernikahan hanyalah soal angka serta aset.

Namun perempuan itu memilih berdiri pada perasaannya sendiri. Ia menolak lamaran demi lamaran yang datang hanya berbekal kemapanan. Dengan keberanian yang jarang dimiliki, ia mempertanyakan logika dunia: untuk apa menikah dengan seseorang yang tidak dicintai?.

Pertanyaan itu sederhana, namun menghantam keras cara berpikir sosial yang telah lama rusak. Apakah cinta harus selalu diukur dengan materi? Apakah ketulusan bisa dibeli dengan uang? Apakah harta yang melimpah mampu menjamin kebahagiaan batin?
Tekanan yang terus menghimpit akhirnya membuat AJI bicara jujur.

Dengan suara bergetar dan hati yang penuh luka, ia berkata kepada kekasihnya, bahwa jika ia benar-benar yakin, maka pertahankanlah hubungan ini. Namun jika ada sedikit saja keraguan, ia rela melepaskan—meski hatinya akan hancur perlahan.

Itu bukan ucapan kelemahan, melainkan keikhlasan yang lahir dari cinta sejati. Sebuah pengorbanan diam-diam dari seorang pria yang tak ingin menjadi beban bagi orang yang ia cintai.

Jawaban sang perempuan menjadi cahaya di tengah gelapnya keadaan. Ia memilih menunggu, selama dirinya masih menjadi tujuan hidup AJI. Ia mencintai bukan karena apa yang dimiliki, melainkan karena siapa dia sebenarnya—bukan “ada apanya”, tetapi “apa adanya”.

Menunggu bukan keputusan yang mudah. Ia harus menantang waktu, melawan omongan orang, dan berdamai dengan ketidakpastian. Namun di situlah cinta diuji—bukan ketika segalanya mudah, melainkan saat segalanya terasa hampir mustahil.

Akhirnya AJI memilih merantau. Ia meninggalkan kampung halaman, meninggalkan kenyamanan yang nyaris tak ada, demi satu tujuan: membuktikan bahwa ia pantas berdiri sejajar dengan perempuan yang ia cintai. Ia membawa harapan, doa, dan tekad yang jauh lebih berat daripada kopernya.

Kisah ini bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah potret tentang harga diri, tentang perjuangan seorang pria, dan tentang keberanian melawan stigma sosial. Dunia boleh meremehkan, tetapi cinta yang tulus selalu menemukan jalannya sendiri.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa tidak semua cinta bisa dibeli dengan uang. Tidak semua kebahagiaan lahir dari harta yang melimpah. Dan tidak semua orang miskin harta miskin pula hatinya.

Karena pada akhirnya, cinta sejati bukan tentang siapa yang paling kaya, melainkan siapa yang paling setia bertahan ketika segalanya belum ada.

Facebook Comments Box

Editor : Editor_Coretansatu

Sumber Berita : Taslim Barakati

Berita Terkait

Gaji Tinggi, Cinta Tergadai: Tragedi Pekerja Tambang di IWIP Berujung Penyesalan”
Trauma Cinta di Weda, Pelarian ke Pulau Obi: Mampukah Ais Temukan Kedamaian?”
Coretan Luka di IWIP: Cinta Segitiga Berujung Tragis di Dermaga Lama
Kesunyian di Trans Kobe: Hidup Baru Ais Setelah Hari Kelam
Di Balik Gemerlap Gaji Tinggi, PT IWIP Simpan Luka Rumah Tangga: Banyak Pasangan Retak Karena Perselingkuhan
Cinta Yang Mengkhianati Darah Sendiri: Luka Yang Lahir Dari Tambang HUAFEI Maluku Utara

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 09:30

BWS Malut Dinilai Tak Bertaring Evaluasi PPK, FORMAPAS Bakal Laporkan Proyek Rp. 42 Miliar ke KPK 

Selasa, 21 April 2026 - 05:49

Formapas Malut Desak Satgas PKH Tindak Tegas Aktivitas Tambang Yang Melakukan Kerusakan Lingkungan di Pulau Taliabu.

Minggu, 19 April 2026 - 14:47

Begini Pesan Ketum di Muscab PKB Halsel: Kader Harus Peka Dampak Ekonomi dan Hadirkan Solusi

Minggu, 19 April 2026 - 09:03

Muscab PKB Halteng: Mutiara Tekankan Loyalitas, 3 Nama Calon Ketua Resmi Diusulkan

Minggu, 19 April 2026 - 08:15

Komitmen Harita Nickel Kembangkan Talenta Lokal, 10 Pemuda Obi Jadi Mekanik Tambang

Sabtu, 18 April 2026 - 03:14

Polisi Dalami Temuan Mayat di Kawasi, Masyarakat Diminta Tidak Berspekulasi

Jumat, 17 April 2026 - 09:45

Langkah Tegas Satgas PKH Dipertanyakan, Ada ‘Pengecualian’ untuk PT Smart Marsindo

Jumat, 17 April 2026 - 08:12

Karyawan PT. BTG Asal Papua Barat di Temukan Tak Bernyawa

Berita Terbaru