HALTENG,Coretansatu.com — Suasana malam itu masih terasa di benak Ais.Hujan rintik yang turun seolah membawa kabar duka yang tak terbantahkan. Setelah insiden semalam,
Sinta akhirnya dinyatakan meninggal dunia,tenggelam bersama sakit hatinya sendiri. Kepergiannya menjadi luka terdalam bagi Ais,yang kini berdiri di antara penyesalan dan kehilangan.
Usai pemakaman, di bawah langit mendung yang masih menyimpan air mata langit,Kamlea perlahan menghampiri Ais.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ais… kira-kira setelah ini torang dua bagimana?”tanya Kamlea dengan suara bergetar, penuh harapan kalau Ais masih punya ruang untuknya.
Ais menatapnya sejenak, mata sembab dan wajah pucat. “Untuk saat ini… kita masih pengen sendiri, Kamlea. Tolong… jangan dulu ganggu kita,” ucapnya lirih, sebelum berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan pemakaman, menahan sesak yang menumpuk di dadanya.
Langkah Ais terasa berat. Setiap jejak kakinya membawa kenangan tentang Sinta,perempuan yang selalu melihat dan memperhatikannya, bahkan ketika dunia memutuskan untuk berpaling. Di benaknya, bayangan wajah Sinta muncul silih berganti, seolah menyalahkan dirinya karena tak mampu menjaga hati yang tulus.
Sesampainya di kos, Ais duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. “Dulu Kamlea tinggalakan kita demi Fauzan,” gumamnya pelan. “Sekarang, Sinta pun pergi karena kecewa dengan Kamlea… dan mungkin juga dengan kita.”
Ia menarik napas panjang, matanya memerah menahan tangis. “Mungkin… saya harus kase tinggal kota Weda. Supaya bayang-bayang dorang dua jangan lagi ada di kita pe pikiran,” ucapnya dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Ais menghampiri sahabatnya, Anto, di bengkel tempat mereka biasa nongkrong. “Anto… kita mau pigi sudah dari Weda,” katanya dengan suara berat dan wajah murung.
Anto memandangnya lama. “Barang bapa kong Ais, jangan karena perempuan itu ngana korbankan ngana pe pekerjaan,” nasihatnya dengan nada prihatin.
“Trada, Anto… kita lebe bae pigi daripada kita mati dengan kenangan pahit di lelilef sini. So cukup kita manahan,” jawab Ais, matanya mulai berkaca-kaca.
Anto terdiam sejenak, lalu bertanya pelan, “Terus Kamlea? Dia so datang jao-jao demi ngana itu, bagimana, Ais?”
Ais hanya menunduk. “Trada… kita pigi sudah. Nanti ngana kase tau kita pe salam. Jaga dia ba telepon di kita. Kita bukan ba jao, cuma mau kase tenang kita pe hati di Pulau Obi,” katanya pelan, suaranya nyaris patah.
Sebelum pergi, Ais menatap wajah Anto sekali lagi, seolah menitipkan seluruh kenangan yang tersisa. “Kase tau pa dia, Anto, bahwa kita mau kerja di Harita Grup di Pulau Obi. Atas ee… itu pesan terakhir untuk Kamlea.”
Angin sore menghembus lembut, membawa pergi setiap kata yang terucap. Dan di balik langkah Ais yang menjauh, tersisa satu kenyataan pahit,cinta bisa memulihkan, tapi juga bisa menghancurkan segalanya.
Kapal kayu yang membawa Ais menuju Pulau Obi bergerak perlahan di atas laut biru keperakan. Angin asin menampar wajahnya, membuat matanya terasa pedih. Tapi rasa itu tidak seberapa dibanding luka di dadanya. Ia meninggalkan Weda,meninggalkan kenangan, meninggalkan Kamlea, dan meninggalkan kuburan Sinta yang masih segar di tanah.
“Semoga di tempat baru ini, kita bisa mulai ulang,” gumam Ais, menatap cakrawala yang mulai memerah di ujung barat.
Sesampainya di Pulau Obi, suasana terasa berbeda. Udara lebih lembab, jalanan berdebu, dan suara mesin tambang menggema hampir setiap saat. Ais diterima bekerja di salah satu site Harita Grup,bagian komunikasi lapangan. Hari-harinya kembali dipenuhi kerja keras, peluh, dan aroma logam yang menyengat. Tapi di setiap jeda, pikirannya masih sering melayang. Kadang ke tawa Kamlea, kadang ke mata teduh Sinta yang kini hanya hidup dalam ingatan.
Suatu sore, saat hujan turun rintik di area mess karyawan, Ais duduk di bawah atap seng, menyeruput kopi hitam. Dari kejauhan, seorang perempuan berjaket oranye tambang melangkah mendekat. Wajahnya tegas, tapi matanya lembut.
“Ngoni baru di sini kah?” tanyanya sambil tersenyum kecil.
Ais mengangguk, “Iya, baru beberapa hari. Ais nama saya.”
“Lani,” jawabnya, sambil menjabat tangan Ais. “Saya di bagian logistik. Kalau ngoni butuh apa-apa, bilang saja.”
Pertemuan itu sepele, tapi entah mengapa meninggalkan kesan aneh di hati Ais. Ada sesuatu di mata Lani,sesuatu yang membuat dadanya hangat setelah sekian lama dingin. Namun ia buru-buru menepis perasaan itu. “Jangan lagi, Ais,” bisiknya dalam hati. “Cinta cuma bikin luka.”
Hari-hari berikutnya, Ais dan Lani makin sering bertemu. Kadang di kantin, kadang di dermaga saat pergantian shift. Lani punya sifat yang mirip Sinta,perhatian, tapi kuat. Suatu malam, ketika genset mati dan seluruh site gelap gulita, mereka berdua duduk di depan mess, menatap bintang.
“Ais, ngoni ini orangnya diam tapi dalam,” kata Lani pelan. “Kita bisa lihat di mata ngoni, ada sesuatu yang belum selesai.”
Ais tersenyum pahit. “Iya… mungkin karena yang lalu-lalu belum benar-benar pergi.”
“Kalau begitu, biarkan yang lalu jadi guru, bukan beban,” balas Lani, menatapnya dengan tatapan penuh makna.
Sejak malam itu, sesuatu dalam diri Ais mulai berubah. Ia mulai bisa tertawa lagi, mulai bisa bekerja tanpa dihantui bayangan masa lalu. Tapi tak lama kemudian, bayangan itu benar-benar datang,bukan dalam mimpi, melainkan dalam bentuk pesan suara di telepon Anto yang diteruskan kepadanya.
Suara itu lirih, namun jelas:
“Ais… ini Kamlea. Kita cuma mau bilang, kalau torang belum selesai. Kalau ngoni pikir pergi itu bisa hapus semua, ngoni salah. Kita datang, Ais. Kita mau ke Obi.”
Pesan itu membuat tubuh Ais gemetar. Kopi yang baru diseduh jatuh dari tangannya, menumpahkan cairan panas ke lantai. Dunia yang baru saja tenang kembali bergetar. Antara masa lalu dan masa kini, antara cinta yang menyakitkan dan harapan yang baru, Ais kembali berdiri di persimpangan.
Angin malam berembus pelan di Pulau Obi, membawa pertanda,badai yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Editor : Admin Coretansatu.com









