Kesunyian di Trans Kobe: Hidup Baru Ais Setelah Hari Kelam

- Penulis Berita

Kamis, 23 Oktober 2025 - 17:06

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ais Deng Sinta

Foto: Ais Deng Sinta

HALTENG,Coretansatu.com –Tiga bulan sudah berlalu sejak hari kelam itu.Waktu berjalan lambat bagi Ais,lelaki tambang yang kini hidup hanya ditemani kopi pahit dan sebatang rokok setiap pagi. Di sudut kecil kosannya di Kelurahan Trans Kobe, ia mencoba membiasakan diri dengan kesunyian.

Setiap hembusan asap rokok yang melayang ke udara, seolah membawa kenangan tentang Kamlea. Nama yang dulu ia coba kubur dalam diam, kini perlahan kembali hidup dalam ingatan. Ia menatap langit, berpikir dalam hati, “Andai ada perempuan yang mau menerima aku apa adanya, entah dia gadis atau janda, aku akan memuliakannya sampai akhir hidupku.”

Pagi itu begitu tenang. Hanya suara burung dan desir angin menembus jendela kosan.Ais menyeruput kopinya perlahan, mencoba menikmati hidup sederhana tanpa beban masa lalu.Namun,hidup seringkali punya cara sendiri untuk menguji hati yang baru saja belajar tenang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ponselnya bergetar pelan di atas meja kayu. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.Ais hampir mengabaikannya,tapi entah mengapa, jantungnya berdetak lebih cepat.Nomor itu terasa tak asing.Ia menatapnya beberapa detik,seperti menatap masa lalu yang tiba-tiba datang tanpa permisi.

Dengan ragu,ia mengangkat telepon itu.Suaranya gemetar ketika berkata,“Deng sapa ini?”Suasana hening sejenak,hanya terdengar desahan napas di seberang. Lalu,muncul suara perempuan yang lembut, samar,tapi begitu dikenalnya.

“Iya… saya Kamlea,” jawabnya perlahan.

Dalam sekejap, tubuh Ais menegang. Napasnya tersengal.Nama itu,nama yang selama ini ia usahakan untuk dilupakan,kini memanggilnya lagi,seolah membuka luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Dengan suara terbata,Ais mencoba menahan perasaannya.“B-kypa Kamlea..ada yang bisa saya bantu?”tanyanya pelan,berusaha terdengar biasa,meski hatinya berkecamuk.

Lalu datang jawaban yang menghantam batinnya seperti palu besi.

“Macam saya inga ngana,Ais,”ucap Kamlea dengan suara yang bergetar antara rindu dan penyesalan. Belum sempat Ais menjawab,sambungan telepon itu terputus.Hening.

Ais menatap layar ponselnya yang kini gelap.Detik itu,dunia di sekelilingnya terasa berhenti.Tangannya menggigil,matanya basah.“B-kypa kong dia yang kita so lupa..tiba-tiba dia bilang inga kita,”gumamnya dalam hati sambil menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.

Ia menyandarkan tubuhnya di kursi bambu,menatap kosong ke arah jalan kecil di depan kos.Bayangan Kamlea kembali hadir,senyum lembutnya,tatapan matanya,suara tawanya yang dulu menenangkan.Semua muncul bersamaan,seperti luka yang tak ingin sembuh.

Dalam keheningan yang menyesakkan itu,Ais tiba-tiba berdiri.Ia melangkah masuk ke kamar,mengambil kunci motor yang tergeletak di meja.Di wajahnya tergambar luka yang dalam,bukan hanya karena cinta yang dikhianati,tapi karena kenangan yang menolak pergi.

Tanpa banyak pikir,ia menyalakan motor dan melaju ke arah pasar kecil di ujung kelurahan.Angin pagi menyapu wajahnya,dingin tapi tak mampu menenangkan gejolak di dadanya.Di sana,ia membeli sebotol minuman keras,bukan karena ingin mabuk,tapi karena ingin melupakan suara Kamlea yang terus terngiang di kepalanya.

Di pinggir jalan,di bawah pohon mahoni tua,Ais membuka botol itu.Ia menenggak seteguk, lalu menatap langit lagi.“Kita kira so kuat..tapi ternyata belum,”gumamnya.Air matanya jatuh perlahan, bercampur dengan rasa pahit minuman yang ia teguk.

Sinar matahari mulai muncul di balik bukit.Tapi bagi Ais, pagi itu tak lagi indah. Ia merasa seperti kembali ke titik nol,titik di mana cinta,rindu,dan luka bercampur menjadi satu.

Di tengah kesepiannya,ia hanya bisa berbisik pelan,“Kamlea..kalau betul ngana masih inga, kenapa dulu ngana buat kita hancur?”Suaranya tenggelam bersama desir angin pagi.

Hari itu,Trans Kobe menyaksikan seorang lelaki yang kehilangan arah,bukan karena kehilangan wanita,tapi karena hatinya tak lagi tahu cara untuk percaya.

Part II Penutup:

Kadang, luka lama tak pernah benar-benar sembuh.Ia hanya tidur sebentar,menunggu satu panggilan untuk kembali hidup dan menyiksa.

Part III — Hujan di Atas Luka

Malam turun perlahan di Trans Kobe. Jalanan mulai sepi, lampu-lampu kos menyala temaram. Ais duduk di bangku panjang depan kamarnya, botol minuman hampir habis, pandangannya kosong menembus gelap. Suara jangkrik bersahutan, namun di dadanya hanya ada satu gema, nama Kamlea yang terus berputar dalam pikirannya.

Setiap teguk minuman terasa seperti racun yang menumpulkan rasa sakit,tapi juga menyisakan perih yang lain. Ais tahu,mabuk bukan jalan keluar.Namun malam itu, ia tidak butuh nasihat.Ia hanya butuh tenang, meski sesaat.

Hujan tiba-tiba turun pelan,membasahi halaman kos dan tubuhnya yang masih duduk diam. Ais tidak bergeming.Ia membiarkan hujan membasuh wajahnya,seperti ingin menghapus air mata yang tak sempat ia sembunyikan.

Dari kejauhan, suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang perempuan membawa payung, berjalan perlahan menghampirinya. Wajahnya samar di balik cahaya lampu jalan. “Bang..ngana kenapa duduk di luar, basah semua?”tanya perempuan itu lembut.

Ais menoleh,sedikit terkejut. Ia mengenali wajah itu, Sinta, tetangga kos yang baru pindah dua minggu lalu. Perempuan muda itu bekerja di warung makan dekat gerbang tambang, ramah dan sederhana.

“Ah..ndak papa, Sin. Cuma duduk-duduk saja,” jawab Ais singkat sambil tersenyum tipis. Namun Sinta tahu, dari sorot matanya, lelaki itu sedang menanggung beban berat. Ia lalu meletakkan payung di tangannya dan duduk di samping Ais, membiarkan hujan menyentuh kaki mereka berdua.

“Kadang, hujan datang bukan buat bikin orang sakit,” kata Sinta pelan, “tapi buat bantu orang buang semua yang disimpan di dalam hati.”

Ucapan itu sederhana, tapi menembus dinding yang selama ini Ais bangun. Ia hanya diam, menatap air hujan yang mengalir di tanah, lalu berbisik lirih, “Kalo begitu… semoga hujan malam ini bisa buang nama Kamlea dari kepala saya.”

Sinta tersenyum kecil. Ia tidak banyak bicara, hanya mengulurkan termos kecil berisi teh hangat. “Minum ini dulu. Supaya badan nggak masuk angin,” katanya. Ais menerima dengan tangan gemetar, menatap perempuan itu lama, bukan dengan cinta, tapi dengan rasa tenang yang lama ia cari.

 

Malam itu, keduanya duduk lama tanpa banyak kata. Hujan masih turun, tapi kini terasa berbeda. Di sela dinginnya udara, Ais merasakan sesuatu yang belum lama ia kenal lagi, kehadiran yang tulus tanpa syarat.

 

Sejak malam itu, Sinta sering mampir ke kos Ais, sekadar membawakan nasi bungkus atau menanyakan kabar. Ais mulai jarang terlihat mabuk. Ia mulai bekerja lebih semangat di tambang, perlahan menemukan arah hidupnya kembali.

 

Namun luka lama bukan hal yang mudah hilang. Setiap kali ponsel bergetar, hatinya masih saja berdebar, takut kalau nama Kamlea muncul lagi di layar. Tapi kini, ia sudah belajar satu hal penting: tidak semua yang datang dari masa lalu pantas dijemput kembali.

 

Di suatu pagi, ketika matahari menembus jendela kosannya, Ais menatap cermin dan tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia berbisik, “Hidup bukan soal siapa yang ninggalin kita… tapi siapa yang tetap tinggal waktu semua orang pergi.”

 

Dan di halaman kecil kos Trans Kobe itu, di antara aroma tanah basah dan sisa hujan malam, Ais tahu, meski hatinya pernah dihancurkan, hidup memberinya kesempatan kedua untuk sembuh.

🌧️ Part III Penutup:

Kadang Tuhan menyembunyikan penyembuh di balik luka. Ia datang bukan dengan janji cinta, tapi dengan ketulusan sederhana yang membuat kita percaya lagi pada hidup.

Part 4 – Saat Luka Mulai Sembuh

Waktu berjalan perlahan, menelan luka yang belum sepenuhnya kering. Sudah hampir empat bulan sejak telepon terakhir dari Kamlea. Ais berusaha keras mengubur semua kenangan itu di bawah tumpukan kesibukan. Ia kembali fokus bekerja di Huafei di bawa PT IWIP, menata hidupnya dari awal dengan semangat baru.

Di bepergian kerjanya, ia sering berpapasan dengan Sinta teman sekost nya yang berjualan nasi kuning di depan gerbang perusahan, perempuan berwajah lembut dengan senyum yang mampu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Berbeda dengan Kamlea yang hangat namun penuh misteri, Sinta sederhana tapi tulus dalam setiap ucapannya.

Awalnya, mereka hanya saling sapa di jalan atau saat pulang kerja di kost mereka. Namun seiring waktu, Sinta mulai memperhatikan sisi lain dari Ais, kesunyiannya, sorot matanya yang dalam, dan tatapan kosongnya yang kadang penuh luka.

“Ngana pikir apa, Ais? Dari tadi diam saja,” tanya Sinta suatu siang sambil tersenyum kecil.

Ais hanya menghela napas, menatap gelas kopinya. “Cuma pikir hidup ini aneh, Sinta. Kadang yang kita jaga, malah yang pertama pergi.”

Sinta menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Mungkin karena Tuhan mau kasih lihat, bahwa masih ada orang yang lebih pantas untuk ngana jaga.”

Kalimat itu entah kenapa membuat dada Ais hangat. Dari hari itu, Sinta sering menemani Ais setiap pulang kerja, sekadar minum kopi di warung depan lelilef, atau duduk di tepi pantai Lelilef sambil mendengarkan suara ombak yang memecah hening malam.

Dari pertemuan kecil itu, benih baru mulai tumbuh. Ais mulai tertawa lagi, mulai berani bercerita, dan mulai percaya bahwa luka bisa sembuh jika hati mau menerima.

Ia bahkan mulai menulis di buku catatannya:

“Kalau nanti Tuhan kasih aku perempuan yang mau nerima apa adanya, aku janji… aku akan jaga dia sampai akhir.”

Namun kehidupan selalu punya cara untuk menguji ketenangan yang baru tumbuh.

Suatu sore, saat Ais dan Sinta duduk di didepan kost, ponsel Ais berdering. Nomor tak dikenal. Ais nyaris tak peduli, tapi sesuatu di dalam dirinya memaksa untuk mengangkat.

“Halo?” katanya singkat.

Suara di ujung sana membuat darahnya berdesir. “Ais… ini Rani, teman kos lamanya Kamlea.”

Ais langsung tersentak. Nama itu menembus dadanya seperti kilat di siang bolong ataukah seperti panasnya Or yang sedang di panaskan menjadikan batangan nikel.

“Kamlea? Ada apa dengan dia?” tanyanya tergesa, wajahnya berubah tegang.

Rani terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Dia… sudah kembali ke Halmahera, Ais. Katanya dia cari kerja di sekitar Lelilef.”

Telepon itu membuat suasana seketika beku. Sinta yang duduk di hadapannya menatap bingung, sementara Ais hanya terpaku, wajahnya pucat.

Dalam kepalanya, masa lalu yang ia kira telah hilang kini bangkit lagi, menghantam hatinya dengan keras.

Malam itu, Ais berdiri di balkon kamar kosnya, menatap lampu tambang dari kejauhan. Hatinya bergetar di antara dua perasaan: cinta yang mulai tumbuh bersama Sinta, dan luka lama yang mungkin akan terbuka kembali.

“Kenapa harus sekarang, Kamlea? Saat aku sudah mulai belajar bahagia lagi…”

bisiknya lirih ke udara malam yang dingin dan sunyi.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Sumber Berita : Taslim Barakati

Berita Terkait

Cinta yang Diremehkan, Harga Diri yang Diuji
Gaji Tinggi, Cinta Tergadai: Tragedi Pekerja Tambang di IWIP Berujung Penyesalan”
Trauma Cinta di Weda, Pelarian ke Pulau Obi: Mampukah Ais Temukan Kedamaian?”
Coretan Luka di IWIP: Cinta Segitiga Berujung Tragis di Dermaga Lama
Di Balik Gemerlap Gaji Tinggi, PT IWIP Simpan Luka Rumah Tangga: Banyak Pasangan Retak Karena Perselingkuhan
Cinta Yang Mengkhianati Darah Sendiri: Luka Yang Lahir Dari Tambang HUAFEI Maluku Utara

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 05:24

Buntut Dugaan Tambang Ilegal, Kades Kubung Halsel Disorot Soal Kepemilikan Tromol Emas

Rabu, 22 April 2026 - 04:52

Proyek SPAM Rp8.8 Miliar di Halut Disorot: SEMMI Malut Minta Kepala BPBPK Dicopot 

Selasa, 21 April 2026 - 09:30

BWS Malut Dinilai Tak Bertaring Evaluasi PPK, FORMAPAS Bakal Laporkan Proyek Rp. 42 Miliar ke KPK 

Selasa, 21 April 2026 - 05:49

Formapas Malut Desak Satgas PKH Tindak Tegas Aktivitas Tambang Yang Melakukan Kerusakan Lingkungan di Pulau Taliabu.

Minggu, 19 April 2026 - 14:47

Begini Pesan Ketum di Muscab PKB Halsel: Kader Harus Peka Dampak Ekonomi dan Hadirkan Solusi

Minggu, 19 April 2026 - 08:15

Komitmen Harita Nickel Kembangkan Talenta Lokal, 10 Pemuda Obi Jadi Mekanik Tambang

Sabtu, 18 April 2026 - 14:59

Tambang Ilegal Doko Jadi Sarang Miras dan Judi, BARAH Desak Polda Malut Segera Tutup

Sabtu, 18 April 2026 - 03:14

Polisi Dalami Temuan Mayat di Kawasi, Masyarakat Diminta Tidak Berspekulasi

Berita Terbaru