Coretan Luka di IWIP: Cinta Segitiga Berujung Tragis di Dermaga Lama

- Penulis Berita

Jumat, 24 Oktober 2025 - 20:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ais Sinta Dan Kamlea

Foto: Ais Sinta Dan Kamlea

HALTENG,Coretansatu.com– Pagi itu,langit Lelilef tampak muram.Awan menggantung rendah di atas barak-barak pekerja PT IWIP.Angin lembap membawa aroma tanah basah, seolah tahu bahwa hari itu akan membawa badai lain dalam hidup Ais.

Setelah menerima kabar dari Rani malam sebelumnya,Ais nyaris tak bisa tidur.Pikirannya berkelindan antara masa lalu dan masa kini,antara wajah Kamlea yang dulu ia cintai,dan senyum Sinta yang kini ia jaga dengan sepenuh hati.

Ketika fajar tiba,Sinta sudah sibuk di dapur kecil kosan mereka.Wangi nasi kuning dan bawang goreng memenuhi ruangan.Seperti biasa,ia menyiapkan dagangannya yang akan ia jual di depan gerbang perusahaan.Ais duduk di teras,mengenakan sepatu kerjanya sambil sesekali melirik jam tangan.Suasana pagi yang biasanya penuh tawa kini terasa ganjil,sunyi,menekan dada.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiba-tiba,dari arah jalan kecil di depan kos,tampak dua sosok perempuan berjalan beriringan.Langkah mereka pelan,saling berpegangan tangan.Jaraknya masih agak jauh,tapi bayangan itu terasa sangat familiar.Ais menghentikan gerakannya,tali sepatu masih setengah terikat.Matanya menyipit,menatap lebih dalam.

Wajah itu?

Hatinya bergetar.

Itu Kamlea,berdiri di sana,dengan rambut yang kini lebih panjang dan mata yang tetap sama,tajam tapi menyimpan rindu.Di sampingnya, Rani melangkah tenang,seperti seseorang yang membawa kabar yang tak bisa dihindari.

“Assalamu’alaikum,”sapa Kamlea dengan suara yang lembut namun menusuk jantung Ais.

“Wa’alaikumussalam,”jawab Ais,pelan,nyaris tanpa napas. Suaranya bergetar, tangannya dingin. Seluruh tubuhnya seperti kehilangan kendali.Saat itu juga,dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar.

Beberapa detik kemudian,Sinta keluar sambil membawa baskom besar berisi nasi kuning dan plastik pembungkus. Ia tersenyum,belum menyadari apa pun.Tapi senyumnya membeku begitu pandangannya bertemu dengan dua tamu tak diundang itu.

“Ngoni..siapa itu,Ais?”tanyanya pelan,dengan nada curiga yang mulai menegang.

Ais menelan ludah. Napasnya berat.“Sinta…ini Kamlea..dan Rani,jawabnya dengan suara rendah.

Plastik berisi nasi kuning yang dipegang Sinta jatuh ke tanah,pecah berserakan.Aroma rempah menguar,bercampur dengan dinginnya udara pagi.

Wajah Sinta berubah pucat,matanya bergetar menahan air mata.“Ngoni mau buat apa lagi,Kamlea?”katanya dengan nada tajam.“So kase ancor orang p hati, sekarang datang lagi dengan harapan palsu?”

Kamlea menunduk,suaranya gemetar.“Sinta,saya cuma mau ketemu Ais,cuma mau bicara baik-baik…

“Tida ada bicara baik-baik!”potong Sinta,suaranya meninggi.“Ais,kalau hari ini ngana pilih Kamlea,maka mulai sekarang saya mundur.Saya tida mau jadi orang kedua yang cuma dijadikan pelarian!

Air mata mengalir deras di pipinya.Tangannya gemetar saat menunjuk ke arah Ais,yang hanya diam terpaku,wajahnya bingung dan hancur. Ia menatap Kamlea, lalu Sinta,dua perempuan, dua dunia,dua luka yang saling beradu di hadapannya.

“Aku…aku cuma mau jelaskan,”ucap Ais pelan.Tapi suaranya tenggelam oleh isak tangis Sinta.

Sinta menatapnya lama.Ada keputusasaan di matanya, tapi juga cinta yang masih begitu besar.“Ngana janji jaga saya, Ais..tapi ternyata ngana masih hidup di masa lalu,”katanya lirih sebelum berlari meninggalkan halaman kos, tanpa alas kaki,tanpa arah.

Kamlea ingin mengejar,tapi Ais menahan. “Biarkan dulu,”katanya lemah.Namun di dalam hatinya,ia tahu,sesuatu telah retak terlalu dalam untuk diperbaiki.

Hari berganti senja. Hujan turun deras membasahi Lelilef. Ais mencoba mencari Sinta ke tempat biasa,ke warung depan site, ke tepi pantai,bahkan ke rumah teman-temannya.Tapi Sinta tak terlihat di mana pun.

Malam tiba. Ais duduk di pinggir jalan, bajunya basah kuyup,wajahnya letih.Dari jauh,Rani datang tergopoh-gopoh, napasnya tersengal. “Ais..cepat! Sinta!”

Ais langsung berdiri, jantungnya berdegup keras.’Kenapa Sinta?

Rani menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Dia… dia ditemukan di belakang dermaga lama. Dia lompat ke laut, Ais

Waktu seolah berhenti. Suara hujan lenyap. Dunia runtuh di depan matanya.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Berita Terkait

Cinta yang Diremehkan, Harga Diri yang Diuji
Gaji Tinggi, Cinta Tergadai: Tragedi Pekerja Tambang di IWIP Berujung Penyesalan”
Trauma Cinta di Weda, Pelarian ke Pulau Obi: Mampukah Ais Temukan Kedamaian?”
Kesunyian di Trans Kobe: Hidup Baru Ais Setelah Hari Kelam
Di Balik Gemerlap Gaji Tinggi, PT IWIP Simpan Luka Rumah Tangga: Banyak Pasangan Retak Karena Perselingkuhan
Cinta Yang Mengkhianati Darah Sendiri: Luka Yang Lahir Dari Tambang HUAFEI Maluku Utara

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 15:19

Diduga Kejar Untung, Direktur PT Cimendang Sakti Kontrakindo Tinggalkan Utang

Minggu, 28 Juni 2026 - 14:30

Eks Anggota DPRD Halsel Diduga Jadi Mafia Minyak Tanah, Jual BBM Subsidi Rp10 Ribu Per Liter

Minggu, 28 Juni 2026 - 06:27

Sukses Gelar Rakerda, Ini Pesan Ketua DPD KNPI Halsel

Minggu, 28 Juni 2026 - 05:28

Terima Hibah Rp4,8 Miliar saat Daerah Defisit, Kejari Tidore Dilaporkan ke Jamwas

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:37

Rakyat Miskin Bertambah, Wali Kota Tidore Malah Manjakan Jaksa Pakai APBD Rp4,8 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 - 16:03

Kapolda Malut Didesak Copot Kapolres Halsel Terkait Pembiaran Tambang Emas Ilegal

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:16

Terkait Isu Penjualan Tanah di Sumae, KNPI Halsel Sebut Tidak Ada Galian C dan Kaitan dengan Harita. Sefnat : Apresiasi untuk Polres yang Sudah Menangani 

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:02

Diduga Selundupkan 5 Ton BBM Subsidi, Eks Anggota DPRD Halsel Lontarkan Kata Kasar ke Presiden Prabowo

Berita Terbaru

Foto: Istimewa

Maluku Utara

Sukses Gelar Rakerda, Ini Pesan Ketua DPD KNPI Halsel

Minggu, 28 Jun 2026 - 06:27