HALSEL,Coretansatu.com – Listrik padam total selama hampir 14 jam tanpa pemberitahuan resmi membuat masyarakat se-Kecamatan Bacan Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, naik pitam. Kegelapan menyelimuti seluruh desa sejak malam hingga keesokan harinya, seakan-akan warga bukan lagi pelanggan namun korban dari kelalaian pihak PLN Bacan.
Sejumlah warga mengaku geram karena pemadaman dilakukan tanpa satu pun himbauan melalui grup resmi, pengumuman desa, maupun media sosial milik PLN. “Kami bukan hidup di zaman obor lagi. Kalau listrik mau dimatikan, kasih tau! Ini seperti diperlakukan semena-mena,” kata salah satu warga Desa Yaba, dengan nada kesal.
Tak hanya aktivitas rumah tangga yang lumpuh, pelaku usaha kecil pun ikut menjerit. Para penjual es, penggilingan, hingga tukang las terpaksa menutup usaha mereka. Kerugian ekonomi pun tak terelakkan, sementara pihak PLN justru bungkam tanpa tanggung jawab yang jelas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan semakin miris ketika anak-anak terpaksa belajar dalam gelap, sementara ibu rumah tangga kesulitan memasak karena seluruh peralatan elektronik tak berfungsi. Bahkan sebagian warga terpaksa memasak menggunakan kayu bakar, seolah kembali ke masa puluhan tahun silam.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa warga yang menggunakan alat kesehatan elektrik merasa nyawa mereka dipertaruhkan. Tanpa genset dan tanpa pilihan lain, mereka hanya bisa berharap listrik kembali sebelum terlambat.
Ironisnya, meski pelayanan buruk terus terjadi, tagihan listrik tetap datang tepat waktu tanpa pernah salah kirim. “Kalau soal bayar, kita disuruh jangan terlambat. Tapi giliran listrik padam seenaknya, kita disuruh sabar,” sindir warga lainnya.
Warga menilai PLN Bacan telah kehilangan rasa empati dan profesionalisme. Mereka meminta agar pimpinan PLN segera memberikan klarifikasi dan permintaan maaf terbuka, sekaligus menjelaskan penyebab utama pemadaman liar tersebut.
Jika dalam waktu dekat tidak ada tanggapan resmi, masyarakat Bacan Barat Utara mengancam akan menggelar aksi protes ke kantor PLN Bacan. Mereka menegaskan bahwa listrik adalah kebutuhan dasar, bukan hadiah yang bisa dicabut sesuka hati.
Warga kini menunggu itikad baik dari pihak PLN. Jika keluhan ini kembali diabaikan, bukan hanya kepercayaan yang hilang, tetapi kemarahan rakyat siap membesar menjadi gelombang perlawanan.
Editor : Admin Coretansatu.com








