‎Relasi Etnis dan Integritas Bangsa

- Penulis Berita

Rabu, 7 Januari 2026 - 07:26

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewa, Saidun Suryadi

Foto Istimewa, Saidun Suryadi

Oleh: Saidun Suryadi Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara- Integritas nasional pada hakikatnya tidak lahir dari slogan normatif atau retorika kebangsaan semata, melainkan dari kedalaman pemahaman intelektual setiap individu dalam membaca realitas sosial bangsanya. Dalam konteks Indonesia, pemahaman tersebut tidak dapat dilepaskan dari persoalan relasi etnis yang secara historis, sosiologis, dan kultural membentuk bangunan nasionalisme Indonesia. Nation atau bangsa bukanlah entitas tunggal yang homogen, melainkan konstruksi sosial yang disusun dari keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Multikulturalisme Indonesia bukan sekadar fakta empiris, tetapi juga tantangan epistemologis dalam menjaga integritas bangsa.

‎Relasi etnis, dalam perspektif sosiologi politik, merupakan hubungan sosial yang terbentuk antara kelompok-kelompok etnis yang memiliki identitas kultural berbeda namun, hidup dalam satu sistem nasional. Indonesia sebagai negara multietnis menghadapi dinamika relasi yang kompleks, dari harmoni, negosiasi, hingga konflik laten. Dalam konteks ini, relasi etnis seharusnya tidak hanya dipahami sebagai hubungan bermasyarakat yang bersifat fungsional, tetapi juga sebagai hubungan kekeluargaan yang berakar pada nilai gotong royong dan solidaritas sosial. Relasi inilah yang semestinya menjadi indikator kemajuan bangsa, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi atau stabilitas politik semu.

‎Namun, problem muncul ketika relasi etnis direduksi menjadi identitas politik yang eksklusif. Alih-alih menjadi modal sosial bangsa, identitas etnis justru sering dimobilisasi untuk kepentingan sempit kelompok tertentu. Di titik inilah integritas bangsa mengalami distorsi. Integritas yang seharusnya berfungsi sebagai mekanisme pemersatu, berubah menjadi instrumen formalistik yang kehilangan substansi keadilan sosial. Fenomena ini sejalan dengan kritik Karl Marx tentang struktur kekuasaan, di mana kepentingan segelintir elite yang menguasai posisi strategis kerap melahirkan ketimpangan, kecurangan, dan marginalisasi kelompok tertentu.

‎Integritas nasional yang otentik menuntut adanya kesadaran struktural dan kultural. Secara struktural, negara harus mampu menciptakan regulasi yang adil dan inklusif, yang tidak tunduk pada dominasi budaya luar maupun hegemoni kepentingan ekonomi-politik tertentu. Secara kultural, integritas bangsa harus bertumpu pada pengakuan terhadap integritas regional, terutama di wilayah pedesaan yang sering kali terpinggirkan dalam narasi pembangunan nasional. Desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek kebudayaan yang menyimpan nilai-nilai lokal penopang persatuan bangsa.

‎Ketidakadilan sosial yang lahir dari kepentingan elite inilah yang kemudian memicu krisis relasi etnis. Ketimpangan ekonomi, intoleransi keberagaman, dan konflik identitas tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan sebagai akibat dari cacat struktural dan kultural negara. Integritas bangsa akhirnya hanya menjadi simbol administratif, sementara masyarakat, khususnya generasi muda menjadi korban eksploitasi isu etnis dan keberagaman tanpa dibekali pendidikan kritis yang memadai. Dalam situasi ini, konflik etnis bukan sekadar persoalan perbedaan, tetapi manifestasi dari kegagalan negara dalam mengelola keadilan sosial.

‎Negara yang harmonis adalah negara yang mampu menjamin keadilan relasi antaretnis dalam setiap ruang kehidupan sosial. Toleransi tidak cukup dimaknai sebagai sikap pasif menerima perbedaan, melainkan harus dihayati sebagai praksis keadilan yang aktif. Setiap individu, organisasi formal maupun informal, seharusnya keluar dari orientasi klaim kebenaran tunggal yang kerap melahirkan pertentangan. Relasi etnis yang sehat hanya dapat terwujud apabila terdapat kesetaraan posisi dan pengakuan martabat antar kelompok.

‎Oleh karena itu, relasi etnis dan integritas bangsa harus ditempatkan sebagai objek analisis kolektif yang diselesaikan melalui metode dialog, identifikasi masalah secara kritis, serta perumusan solusi bersama. Integritas bangsa bukan produk instan, melainkan proses historis yang menuntut kesadaran intelektual, keberanian moral, dan komitmen sosial. Tanpa itu, nasionalisme hanya akan menjadi jargon kosong, dan relasi etnis akan terus menjadi ladang konflik yang menggerus persatuan Indonesia dari dalam.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Sumber Berita : Taslim Barakati

Berita Terkait

Digitalisasi Pendidikan Berujung di Meja Hijau Hakim
Terobosan Hukum Progresif Menuju Keadilan Substantif Di Halmahera Selatan
Ketika Seleksi Panitia Haji Mengancam Keselamatan Jamaah Maluku Utara
Menimbang Sifat Melawan Hukum Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2023
Jalan Trans Kobe – Dusun Kulo versus jalan Trans Kieraha
“Pemda Halmahera Tengah dinilai salah Alokasikan Anggaran, Jalan Sif Loman & Trans Waleh Terabaikan”
Hari Pahlawan di Negeri Tambang Nikel
Pers: Pilar Keempat Demokrasi Yang Terlupakan

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 00:27

Dominasi Halut Berlanjut, Tuan Rumah Pimpin Klasemen Sementara Porprov Maluku Utara

Senin, 8 Juni 2026 - 14:35

Hasil Laga Sepak Bola Porprov V Malut: Halut Kalahkan Halsel 3-2, Ternate, Tidore, dan Halbar Raih Kemenangan  

Senin, 8 Juni 2026 - 13:07

Penutupan Cabor Muaythai Porprov Malut: Halut Dominan Raih 7 Emas, Halbar Sabet Sisa 1 Emas  

Minggu, 7 Juni 2026 - 13:26

Arwin Ardiansyah Jadi Pahlawan, KJH FC Taklukkan PCI 2-1 dalam Lanjutan PWI Cup

Minggu, 7 Juni 2026 - 06:46

Semarak Porprov V Maluku Utara, Ketum KONI Buka Cabor Sepak Bola di Lapangan Togawa Galela

Minggu, 7 Juni 2026 - 02:53

Pembukaan Porprov V Maluku Utara Diundur Sehari, Demi Kehadiran Gubernur Sherly Tjoanda

Selasa, 24 Februari 2026 - 18:04

Malut United Takluk 2-3 dari Persija, Hendri Susilo Akui Transisi Lawan Lebih Efektif

Kamis, 12 Februari 2026 - 11:27

Kalah Dua Kali Beruntun Malut United Fokus Bangkit di Kandang Saat Jamu Jepara

Berita Terbaru