Hujan Deras Guyur Kota Weda, Tiga Desa Terendam Banjir: Warga Soroti Kinerja Pemda

- Penulis Berita

Senin, 1 Juni 2026 - 14:56

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

HALTENG,Coretansatu.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Senin malam (1/6/2026), kembali memicu bencana banjir. Air bah yang meluap akibat curah hujan tinggi merendam permukiman warga di sedikitnya tiga desa, yakni Desa Fidi Jaya, Desa Wedana, dan Desa Were, yang berada di wilayah Kecamatan Weda.

Pantauan langsung di lapangan menunjukkan, air mulai masuk ke pekarangan hingga bagian dalam rumah warga tak lama setelah hujan dengan intensitas tinggi turun selama berjam-jam. Genangan air yang cukup tinggi membuat aktivitas warga terganggu dan memunculkan kekhawatiran akan kerusakan barang-barang milik warga yang terendam.

Peristiwa banjir kali ini kembali menjadi pukulan bagi masyarakat, mengingat masalah yang sama disebut terus berulang setiap kali musim hujan tiba. Belum ada solusi tuntas yang dirasakan warga, sehingga keluhan dan kekecewaan kembali tersampaikan ke permukaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau hujan deras pasti ada rumah terendam. Ini sudah jadi langganan kami setiap musim hujan. Kami sangat berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah agar masalah ini tidak terus berulang setiap tahun dan membuat kami resah,” ungkap salah seorang warga terdampak yang enggan disebutkan identitasnya.

Fenomena banjir yang kerap terjadi ini kini memicu sorotan tajam terhadap efektivitas sistem drainase perkotaan serta kebijakan penataan ruang yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah. Warga menilai, persoalan pengendalian banjir belum menjadi prioritas utama atau belum mendapatkan perhatian serius, terbukti dari belum teratasinya masalah genangan di sejumlah titik strategis perkotaan.

Menurut pengamatan warga, ada persoalan mendasar yang belum terselesaikan hingga kini. Mulai dari kapasitas saluran drainase yang dinilai tidak lagi memadai menampung debit air hujan, pengelolaan aliran air yang belum rapi, hingga melemahnya perlindungan terhadap kawasan resapan air yang kian berkurang akibat laju pembangunan.

“Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem tata ruang dan infrastruktur pengendali banjir yang ada sekarang. Pembangunan fisik dan investasi di daerah ini memang terus berkembang pesat, tapi hal itu harus diimbangi dengan perencanaan lingkungan yang matang agar mampu mengurangi risiko bencana bagi masyarakat,” tegas warga tersebut.

Warga juga menuntut pembenahan total infrastruktur pengairan. Pemda diminta segera melakukan normalisasi saluran air agar aliran air lancar, serta memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembangunan gedung atau perumahan baru yang berpotensi memotong atau mengganggu jalur aliran air alami.

Bagi masyarakat, indikator keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi atau masuknya investasi besar, melainkan juga dari kemampuan pemerintah menjamin keselamatan dan kenyamanan warganya dari ancaman bencana yang sebenarnya bisa dicegah.

“Kami berharap pemerintah melalui instansi terkait segera menghadirkan solusi jangka panjang yang terukur dan jelas. Keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan investasi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjamin keselamatan warga serta mengurangi risiko bencana yang terus berulang ini,” pinta warga dengan harapan besar.

Hingga berita ini dipublish, belum ada keterangan resmi maupun tanggapan langsung dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah terkait penyebab dan langkah penanganan yang akan dilakukan pasca banjir yang merendam tiga desa tersebut.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Berita Terkait

Gelar Penyuluhan di Desa Baru, Polsek Obi Ajak Pelajar SMPN 13 Halsel Perangi Judol dan Napza
Sikap Cuek Kades Sawadai Soal Isu Nikah Siri Picu Kritik Pedas Praktisi Hukum
Konvoi Piala Dunia di Halsel Berjalan Aman dan Tertib Dibawah Pengawalan Satlantas
Sisa 140 Meter Tak Tuntas, APH Diminta Soroti Proyek BPBD Halsel
PWI Halsel Desak Danyonif 867 Proses Hukum Oknum TNI Diduga Tampar Wartawan saat Nonton Bola
Wartawan Dianiaya Oknum TNI, KNPI Halsel Minta Pelaku Diproses Hukum 1×24 Jam
Utang Rp1,3 Triliun Belum Lunas, Pemprov Malut Minta Persetujuan Pinjam Rp1 Triliun Lagi
Proyek Talud Pantai Darurat di Samat Terancam Mangkrak: Sisa 140 Meter Tak Tuntas

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 06:11

Gelar Penyuluhan di Desa Baru, Polsek Obi Ajak Pelajar SMPN 13 Halsel Perangi Judol dan Napza

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:19

Sikap Cuek Kades Sawadai Soal Isu Nikah Siri Picu Kritik Pedas Praktisi Hukum

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:01

Konvoi Piala Dunia di Halsel Berjalan Aman dan Tertib Dibawah Pengawalan Satlantas

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:34

Sisa 140 Meter Tak Tuntas, APH Diminta Soroti Proyek BPBD Halsel

Rabu, 15 Juli 2026 - 08:02

PWI Halsel Desak Danyonif 867 Proses Hukum Oknum TNI Diduga Tampar Wartawan saat Nonton Bola

Rabu, 15 Juli 2026 - 04:50

Utang Rp1,3 Triliun Belum Lunas, Pemprov Malut Minta Persetujuan Pinjam Rp1 Triliun Lagi

Selasa, 14 Juli 2026 - 12:18

Proyek Talud Pantai Darurat di Samat Terancam Mangkrak: Sisa 140 Meter Tak Tuntas

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:53

Penganiayaan Guru PPPK di Halsel: Terduga Pelaku Terancam Penjara Lebih dari 5 Tahun

Berita Terbaru