TIDORE,Coretansatu.com — Kesultanan -Tidore menegaskan tidak terlibat dalam produksi acara yang memicu polemik rasisme di tengah masyarakat, Pernyataan resmi ini disampaikan langsung oleh Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, Ishak Naser, usai menggelar pertemuan dengan Kapolresta Tidore, Selasa, 19 Mei 2026.
Ishak Naser menyatakan bahwa Sultan maupun perangkat adat atau bobato tidak pernah mengeluarkan pernyataan rasis kepada pihak manapun.
Ia juga menekankan bahwa acara yang saat ini dilaporkan ke polisi tersebut murni bukan merupakan agenda ataupun produk resmi pihak Kesultanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami bukan penyandang dana, kami juga bukan penyusun naskah, kami juga bukan aktor yang membacakan,” tegas Ishak Naser di hadapan awak media.
Klarifikasi ini merupakan respons cepat Kesultanan atas aksi unjuk rasa jilid kedua yang digelar oleh kelompok Pemuda Bobo di Kelurahan Bobo, Kota Tidore Kepulauan, pada Senin (18/5).
Dalam aksi tersebut, Pemuda Bobo menuntut Sultan Tidore hadir secara langsung untuk menjelaskan sejarah masyarakat Bobo secara terbuka guna meluruskan polemik di media sosial.
Selain itu, massa mendesak transparansi Polresta Tidore terkait penanganan laporan hukum terhadap akun media sosial “D’Facto” yang diduga melakukan rasisme dengan menyebut masyarakat Bobo sebagai orang Papua.
Aksi unjuk rasa tersebut sempat memanas ketika Walikota Tidore, Muhammad Sinen, turun langsung ke lokasi. Sinen mengecam tindakan massa yang membakar ban dan memblokade jalan umum hingga memicu kemacetan parah.
Sinen menegaskan bahwa pemerintah daerah bertanggung jawab penuh atas ketertiban fasilitas publik dan meminta massa untuk memindahkan lokasi demonstrasi jika tidak puas dengan pihak Kesultanan
“Kamu tahu tidak ini jalan umum mengganggu lalu lintas, kamu provokator. Jadi kalau tidak puas, demo di Kedaton (Kesultanan), bukan di jalan,” ujar Sinen dengan nada tinggi di lokasi aksi.
Editor : Admin Coretansatu.com








