BANDA ACEH,Coretansatu.com — Pelaku olahraga dan akademisi muda Aceh, Iswanda Surya, menyampaikan pernyataan tegas terkait memburuknya kondisi lingkungan akibat aktivitas manusia. Ia menilai kerusakan alam yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar peringatan, tetapi konsekuensi dari pilihan kolektif yang keliru.
“Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia,” ujar Iswanda, mengutip QS 30:41 sebagai dasar kritiknya.
Iswanda menyoroti sejumlah faktor yang memperparah kerusakan lingkungan, mulai dari kebijakan yang tidak memadai, pengawasan yang longgar, hingga kecenderungan sebagian pihak mengabaikan aturan demi keuntungan jangka pendek. “Ini bukan kejadian tiba-tiba. Kita sendiri yang membangun kondisi ini,” tegasnya
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, masyarakat kini terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Perubahan iklim, rusaknya bentang alam, dan melemahnya ekosistem membuat pencegahan total hampir tidak mungkin dilakukan. Meski demikian, ia menilai mitigasi masih dapat diperkuat.
Iswanda menekankan perlunya tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, serta keberanian pemerintah dan masyarakat untuk menolak proyek yang berpotensi merusak lingkungan. Ia juga menilai pentingnya edukasi mitigasi bencana secara masif bagi seluruh kelompok usia.
Dalam pernyataan yang terkesan keras, Iswanda mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi langsung menyasar keberlangsungan hidup manusia. “Bumi tidak butuh kita. Yang terancam punah bukan planetnya, tapi kita sendiri,” ujarnya.
Ia menyerukan apa yang ia sebut sebagai tobat ekologis, merujuk pada seruan Paus Fransiskus untuk mengembalikan batas-batas yang selama ini dilanggar: batas keserakahan, batas kelalaian, dan batas melanggar aturan.
“Jika kita ingin masa depan yang layak bagi anak dan cucu kita, perbaikan harus dimulai hari ini,” kata Iswanda dengan tegas.
Editor : Admin Coretansatu.com
Sumber Berita : M Nur









