ACEH TENGAH,Coretansatu.com — Di balik sejuknya udara pegunungan Gayo, ada kisah haru dari warga Desa Celala, Kecamatan Celala. Setelah puluhan tahun hidup dalam gelap, malam-malam mereka kini berubah terang. Lampu-lampu mulai menyala, bukan karena sambungan dari tetangga, tapi berkat program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dari pemerintah.
“Dulu kalau malam kami hanya pakai pelita atau kabel sambungan dari rumah sebelah. Sekarang alhamdulillah, sudah punya listrik sendiri,” ujar Sirga, warga Desa Nosa, sambil tersenyum di depan rumah kayunya yang kini bercahaya.
Program BPBL adalah inisiatif Kementerian ESDM dan PT PLN yang menyalurkan sambungan listrik gratis bagi masyarakat tidak mampu di pelosok. Di Aceh Tengah, program ini terasa seperti hadiah besar—bukan sekadar kabel dan meteran, tapi juga simbol harapan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anggota DPR RI asal Aceh, Irsan Sosiawan, yang turut mendorong program ini, menyebut listrik sebagai “pintu pembuka kehidupan modern.”
“Begitu rumah teraliri listrik, aktivitas warga berubah total. Anak bisa belajar malam hari, usaha kecil bisa beroperasi, dan rasa aman pun tumbuh,” katanya.
Ketua Fraksi NasDem DPRK Aceh Tengah, Wahyudin, menambahkan bahwa sebelumnya banyak warga menggunakan tiang bambu dan sambungan liar yang berisiko kebakaran. “BPBL bukan cuma soal gratis listrik, tapi soal keselamatan dan kemandirian energi,” tegasnya.
Kini, jika Anda melintas di lembah Gayo pada malam hari, akan tampak titik-titik cahaya di antara kabut dan kebun kopi—tanda bahwa gelap telah mundur, dan cahaya pembangunan mulai merambah setiap rumah di pedalaman Aceh Tengah.
Editor : Admin Coretansatu.com
Sumber Berita : M Nur









