HALSEL,Coretansatu.com — Breakwater yang seharusnya menjadi benteng pelindung pesisir justru membuat warga Desa Orimakurunga, Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) semakin cemas. Dalam sepekan terakhir, cuaca ekstrem tak kunjung mereda dan ombak terus menghantam pantai seolah tidak ada perlindungan, padahal proyek dengan total anggaran Rp6,6 miliar tersebut baru dibangun setahun lalu.
Pembangunan breakwater dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama pada 2022 dengan anggaran Rp4,375 miliar dikerjakan CV Multi Jaya Utama, kemudian tahap kedua pada 2023 dengan angaran Rp2,2 miliar oleh CV Askonstruksi. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan struktur tersebut tidak mampu menahan gelombang, bahkan mengalami kerusakan cukup parah.
“Ketika gelombang datang, material batu mulai terbawa ombak dan berserakan di pantai. Ini menjadi ancaman bagi kami,” ujar Sulfi, warga setempat, pada Rabu (01/04/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibat kondisi tersebut, pada Jumat lalu warga bersama pemerintah desa melakukan kerja bakti untuk mengumpulkan kembali material tercecer agar tidak memperparah keadaan. “Batu-batu itu kami kumpulkan kembali supaya tidak berdampak buruk bagi lingkungan,” tambahnya.
Menurut warga, dengan nilai anggaran yang besar, breakwater seharusnya dibangun lebih kokoh dengan ukuran memadai. Mereka menyatakan struktur terlihat pendek, tidak terlalu tinggi, dan materialnya tidak sesuai sehingga tidak mampu menahan ombak saat cuaca ekstrem.
Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Halsel, termasuk Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba, dapat melihat langsung kondisi lapangan. Selain itu, warga juga meminta klarifikasi dari mantan Kepala Dinas PUPR yang kini menjabat Kepala Dinas Perkim, Ikbal Hi Mustofa, terkait pelaksanaan proyek tersebut.
Saat ini, Ikbal masih dalam upaya konfirmasi oleh awak media terkait tuntutan tersebut.
Editor : Admin Coretansatu.com









