HALSEL,Coretansatu.com — Akses jalan utama yang menghubungkan Desa Sayoang dan Desa Yaba, Kabupaten Halmahera Selatan, kini berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Jalan tersebut yang selama ini menjadi jalur vital menuju pusat kota dan kebun warga, kini rusak parah dan sulit dilalui.
Kerusakan jalan sudah terjadi bertahun-tahun tanpa penanganan berarti dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Warga menyebut kondisi ini bukan lagi sekadar kerusakan biasa, melainkan “jebakan maut” yang mengintai setiap pengguna jalan, terutama saat musim hujan tiba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pantauan di lapangan menunjukkan, sebagian besar ruas jalan sudah tidak lagi beraspal. Bekas jalan selebar tiga meter kini berubah menjadi genangan lumpur dan kubangan air. Sejumlah titik bahkan sudah terputus akibat longsor dan arus sungai yang kian meluas.
Lebih parah lagi, di sepanjang jalur tersebut terdapat puluhan sungai tanpa jembatan. Setiap kali hujan turun, arus air meluap dan menutup akses. Warga terpaksa membangun jalan darurat dari batang pohon dan tanah agar tetap bisa melintas.
Menurut keterangan warga Desa Yaba, kondisi ini telah menyebabkan banyak kesulitan, terutama bagi mereka yang hendak berobat atau membawa hasil kebun ke pasar. “Sudah tidak terhitung berapa kali kami bangun jalan darurat, tapi setiap musim hujan rusak lagi,” keluh salah satu warga.
Beberapa kasus tragis bahkan sempat terjadi. Sejumlah pasien rujukan dari Puskesmas Yaba dilaporkan meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUD Labuha karena kondisi jalan yang buruk memperlambat proses evakuasi.
Warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan aspirasi ke pihak pemerintah daerah, namun hingga kini belum ada tindakan konkret. Mereka menilai Pemerintah Provinsi Maluku Utara terkesan abai terhadap keselamatan warga pedesaan.
“Kalau jalan ini diabaikan terus, bukan tidak mungkin akan ada korban lagi. Kami mohon Gubernur Sherly Laos jangan tutup mata,” ujar tokoh masyarakat Sayoang dengan nada tegas.
Kerusakan ini juga berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat. Harga bahan pokok meningkat karena distribusi logistik terganggu, sementara hasil pertanian warga sulit keluar desa akibat jalur transportasi yang terputus.
Warga berharap Gubernur Sherly Laos segera turun tangan meninjau langsung kondisi jalan tersebut dan memprioritaskan pembangunan infrastruktur Sayoang–Yaba dalam program kerja provinsi tahun mendatang.
Masyarakat dua desa itu menegaskan, mereka tidak meminta janji, melainkan tindakan nyata. “Kami sudah terlalu lama menunggu. Jalan ini bukan sekadar tanah dan batu, ini urat nadi kehidupan kami,” pungkas salah satu warga dengan nada penuh harap.
Editor : Admin Coretansatu.com
Sumber Berita : Taslim Barakati








