TIDORE,Coretansatu.com — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas kembali menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pengembangan ibu kota Provinsi Maluku Utara, Sofifi.
Proyek ini akan melibatkan empat kesultanan, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo, dalam penyusunan pra-masterplan, yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2025.
Langkah ini diketahui diambil di tengah hangatnya isu Daerah Otonom Baru atau DOB di Maluku Utara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ika Ratna Wulandary, Direktur Pembangunan Indonesia Timur Kementerian PPN/Bappenas, menyatakan bahwa pelibatan empat kesultanan, Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailol, merupakan langkah strategis untuk memastikan pembangunan selaras dengan kearifan lokal.
“Kita ingin mendengarkan dari berbagai pihak untuk menjadi masukan di dalam pra master plan, termasuk dari empat kesultanan,” kata Ika, Ketika diwawancarai awak media, Pada Kamis, (23/10/24).
Ika menambahkan, pra-masterplan ini diharapkan dapat memberikan gambaran awal mengenai pengembangan ibu kota, dengan target penyelesaian pada Desember 2025.
Terkait isu Daerah Otonom Baru, Ika menegaskan bahwa Bappenas akan mengacu pada keputusan Kementerian Dalam Negeri. Prioritas utama saat ini, menurutnya, adalah penataan dan pengembangan kawasan Sofifi agar lebih optimal dan berkelanjutan.
Selain master plan, ia juga menyinggung soal Daerah Otonom Baru (DOB) yang ramai dibicarakan.
“Soal DOB itu kita akan mengacu kepada apa yang diputuskan oleh Mendagri itulah yang menjadi acuan kita saat ini, yang penting diprioritaskan adalah penataan dan pengembangan kawasan terlebih dahulu agar lebih optimal dan juga bisa lebih sustainable,” Ujarnya.
Terpisah, Kesultanan Tidore melalui Sowohi Kie, Ishak Naser, menyatakan dukungan terhadap percepatan pembangunan Ibu Kota Sofifi.
Dukungan ini ditegaskan bukan sebagai isu politis, melainkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, Ishak Naser memberikan sejumlah penekanan terkait konsep dan batas wilayah pembangunan.
“Tidak ada nuansa politis, tidak ada. Intinya proses percepatan pembangunan kawasan Ibu Kota Sofifi ini, bukan sebagai konteks daerah otonomi baru yah, tapi sebagai kawasan pusat pemerintahan ibu kota,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa konsep pengembangan Sofifi harus melibatkan dan mengakomodasi keinginan empat kesultanan, yaitu Tidore, Jailolo, Bacan, dan Ternate, agar Sofifi menjadi milik bersama.
Hal ini pun menjadi salah satu poin utama yang diarahkan oleh pihak kesultanan.
Ishak juga mengingatkan pentingnya kejelasan batas wilayah yang harus mengacu pada undang-undang.
“Sudah jelas, hanya ada dalam wilayah kecamatan Oba, tidak boleh tambah yang lain-lain,” Pungkasnya.
Editor : Admin Coretansatu.com
Sumber Berita : Amat









