SEMMI Malut Siap Seret Shanty Alda Ke KPK: Jejak Suap, Izin Tambang, dan Fakta Persidangan

- Penulis Berita

Senin, 6 Oktober 2025 - 15:58

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA,Coretansatu.Com – Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Maluku Utara akan menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam waktu dekat untuk melaporkan secara resmi dugaan suap dan praktik kotor perizinan tambang yang menyeret nama Shanty Alda Nathalia.

Ketua SEMMI Malut, Sarjan Hi Rifai, menegaskan bahwa keterlibatan Shanty Alda bukan sekadar isu liar, melainkan fakta hukum yang telah terungkap dalam persidangan kasus suap mendiang Gubernur Maluku Utara (AGK). Shanty yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Smart Marsindo sekaligus anggota DPR RI dari Fraksi PDIP disebut-sebut memainkan peran langsung dalam transaksi suap.

Sarjan menyoroti kehadiran PT Smart Marsindo di Pulau Gebe, Halmahera Tengah, yang sejak awal diduga sarat pelanggaran. Ia menilai perusahaan itu tidak berdiri di atas mekanisme hukum yang sah, melainkan mengandalkan lobi, tekanan, dan praktik culas untuk memperlancar aktivitas tambang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Setiap prosesnya penuh indikasi pelanggaran hukum dan kepentingan yang diselubungi permainan uang,” tegas Sarjan. Ia menyebut langkah melaporkan Shanty Alda ke KPK adalah bagian dari upaya membongkar skema abu-abu perizinan tambang di Malut.

Persidangan perkara korupsi AGK dengan Nomor Putusan 11/Pid.Sus-TPK/2024/PN Tte menjadi titik terang. Dalam fakta persidangan, nama Shanty muncul sebagai pihak yang menyerahkan uang sebesar Rp250 juta kepada AGK. Nilai itu disebut bukan hadiah basa-basi, melainkan kode untuk mengamankan restu IUP PT Smart Marsindo.

Transaksi tersebut semakin menguat setelah kesaksian tambahan mengungkap adanya pertemuan antara Shanty dan AGK di Hotel Bidakara, Jakarta. Dalam pertemuan itu, Shanty disebut menyampaikan kegelisahan terkait lambannya proses izin tambang yang melibatkan pejabat teknis di Maluku Utara.

Nama Muhammad Sukurlila, Kepala Dinas Kehutanan Malut, ikut diseret sebagai target strategis untuk memuluskan dokumen. Uang Rp250 juta itu bahkan disebut disalurkan melalui karyawan Shanty dan diterima langsung oleh Deden Sobadri.

Parahnya lagi, Tak berhenti di ranah suap, catatan pelanggaran administratif PT Smart Marsindo ikut mencoreng reputasi perusahaan. Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM telah mengeluarkan surat peringatan keras karena perusahaan itu mengabaikan kewajiban Jaminan Reklamasi.

Surat bernomor B-727/MB.07/DJB.T/2025 tertanggal 16 Mei 2025 menegaskan adanya pembangkangan terhadap regulasi yang berlaku. Hal itu menjadi bukti bahwa perusahaan tersebut tak hanya bermain di wilayah hukum abu-abu, tapi juga mengangkangi kewajiban lingkungan.

Lebih jauh, peringatan pertama terkait Jaminan Reklamasi sudah dilayangkan sejak 10 Desember 2024, namun tak dihiraukan. Ketidakpatuhan itu memperkuat dugaan bahwa operasi PT Smart Marsindo berdiri di atas praktik ketidakjujuran yang sistematis.

SEMMI Malut menegaskan laporan ke KPK bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Sarjan memastikan bahwa berkas laporan tengah disusun secara lengkap, termasuk memuat kronologi, bukti persidangan, dan data administratif yang berkaitan dengan perizinan tambang.

Ia menegaskan, kasus ini tidak boleh dibiarkan menjadi catatan kelam tanpa penindakan. “Hukum harus menembus tembok kekuasaan siapa pun yang bermain. Nama besar tidak boleh jadi tameng kebal hukum,” Pungkasnya.

Facebook Comments Box

Editor : Admin.Coretansatu

Berita Terkait

Langkah Tegas Satgas PKH Dipertanyakan, Ada ‘Pengecualian’ untuk PT Smart Marsindo
Karyawan PT. BTG Asal Papua Barat di Temukan Tak Bernyawa
Kantongi Bukti Kuat, KNPI Halsel Sebut Polemik Lahan Alimusu Sudah Selesai
Pangkalan Amigo Diduga Jual Mitan di Atas HET, Warga Payahe Desak Disperindag Turun Tangan
Transformasi Ekonomi dari Desa, Wayamiga Mulai Tanam Jahe Lewat Demplot TEKAD
Halsel Darurat PETI: Tambang Ilegal Bebas Beroperasi di Lahan Eks-PT IMM
Diduga Tilap Dana Desa Rp888 Juta, Warga Sigela Yeef Kompak Tuntut Kades Dicopot!
Skandal Dana Desa Hager Mencuat: Aset Mewah Muncul Mendadak, Warga Desak Audit Total 

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 09:45

Langkah Tegas Satgas PKH Dipertanyakan, Ada ‘Pengecualian’ untuk PT Smart Marsindo

Jumat, 17 April 2026 - 08:12

Karyawan PT. BTG Asal Papua Barat di Temukan Tak Bernyawa

Jumat, 17 April 2026 - 07:40

Kantongi Bukti Kuat, KNPI Halsel Sebut Polemik Lahan Alimusu Sudah Selesai

Jumat, 17 April 2026 - 03:29

Pangkalan Amigo Diduga Jual Mitan di Atas HET, Warga Payahe Desak Disperindag Turun Tangan

Jumat, 17 April 2026 - 02:06

Transformasi Ekonomi dari Desa, Wayamiga Mulai Tanam Jahe Lewat Demplot TEKAD

Kamis, 16 April 2026 - 06:12

Diduga Tilap Dana Desa Rp888 Juta, Warga Sigela Yeef Kompak Tuntut Kades Dicopot!

Kamis, 16 April 2026 - 04:16

Skandal Dana Desa Hager Mencuat: Aset Mewah Muncul Mendadak, Warga Desak Audit Total 

Rabu, 15 April 2026 - 15:02

GPM Desak KPK Usut Dugaan Monopoli Proyek dan Lonjakan Kekayaan Gubernur Malut

Berita Terbaru

Kondisi Korban Saat Dievakuasi Pihak Kepolisian dan TNI

Maluku Utara

Karyawan PT. BTG Asal Papua Barat di Temukan Tak Bernyawa

Jumat, 17 Apr 2026 - 08:12