Bencana Sosial di Balik Kasus Tambang Ilegal Di Pulau Gebe

- Penulis Berita

Kamis, 2 Oktober 2025 - 04:17

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERNATE,Coretansatu.com- Provinsi Maluku Utara yang dahulu dikenal dengan laut biru dan hamparan pulau hijau, kini berubah menjadi panggung tarik-menarik kepentingan: negara, korporasi, dan masyarakat adat yang tanahnya tergerus buldoser.

Di provinsi kepulauan ini, aktivitas pertambangan nikel ilegal diduga kian masif dan mengancam lingkungan serta mata pencaharian masyarakat setempat. Lihat saja, aktivitas penambangan nikel yang berlangsung di pulau Gebe, Halmahera Tengah.

Pulau Kecil di Ujung Tanduk

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pulau Gebe, dengan luas daratan hanya sekitar 145 kilometer persegi, secara hukum dikategorikan sebagai pulau kecil yang dilindungi ketat oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 yang merupakan perubahan UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. UU ini secara eksplisit, dalam Pasal 20, melarang penambangan terbuka di pulau kecil kecuali dengan teknologi yang tidak menyebabkan kerusakan.

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35/PUU-XXI/2023 kemudian memperkuat kebijakan pelarangan aktivitas tambang di wilayah pesisir dan pulau kecil.

Salahuddin Lessy Direktur Almahera Climate Action, mengatakan bahwa hasil analisis pihaknya, yang diperkuat oleh citra satelit dan pemodelan lingkungan mutakhir, menunjukkan bahwa aktivitas tambang di Pulau Gebe telah jauh melampaui batas toleransi.

“Kami menemukan indikasi kuat perluasan area tambang di luar izin, sedimentasi yang merusak terumbu karang, dan yang paling krusial, ancaman serius terhadap aquifer air tawar, satu-satunya sumber kehidupan warga Gebe,” kata Salas sapaan akrabnya, Kamis (2/10).

Menurutnya, sebagai pulau kecil, penerbitan izin apapun wajib memperoleh rekomendasi teknis dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Rekomendasi ini penting untuk memastikan aktivitas tidak mengganggu kelestarian ekosistem pesisir dan laut di sekitar pulau. Fakta di lapangan menunjukkan tidak satu pun IUP yang memiliki rekomendasi ini, menjadikan izin yang diterbitkan cacat hukum secara formil.

Apalagi, sebagian besar perusahaan yang beroperasi di pulau ini tidak masuk kategori Clean and Clear (CnC), bahkan tidak melewati mekanisme lelang wilayah pertambangan sebagaimana diwajibkan undang-undang Minerba.

Kapal Tongkang yang Diduga Memuat Ore Nikel dari Hasil Tambang Ilegal

Lantas, Mengapa Tambang Ilegal Ini Sulit Diberantas?

Salahuddin Lessy menilai aktivitas pertambangan ilegal di pulau Gebe merupakan masalah struktural yang telah berlangsung cukup lama dan cenderung dibiarkan begitu saja.

“Saya kira ini masalah pembiaran, harusnya tambang yang izinnya belum ‘clear’ tidak boleh dibiarkan beraktivitas,” ujarnya.

Salas mengatakan, Praktik penambangan ilegal berlangsung tertutup, terstruktur, dan sering kali dilindungi jaringan kuat. Modusnya ialah eksploitasi di luar wilayah konsesi resmi. Ini kerap dilakukan secara diam-diam. Lalu, mengekstraksi dalam volume besar di waktu-waktu tertentu.

“Ada dugaan kuat bahwa penambangan ilegal bisa berlangsung karena dibekingi oleh oknum. Mereka ini saling terkoneksi, antara para pekerja di pangan dan aktor yang tidak terlibat langsung,” katanya.

Namun, pihaknya tetap memberikan apresiasi atas langkah-langkah penindakan yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Seperti operasi terbaru yang dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

Kendati demikian, upaya pemberantasan dinilai belum maksimal. Ini karena Satgas PKH bentukan Prabowo itu, belum menindak satu pun perusahaan tambang yang beroperasi di pulau Gebe.

“Presiden harus segera perintahkan Kementerian terkait seperti ESDM, Kehutanan, dan KKP untuk tindak perusahaan yang beroperasi di pulau Gebe, termasuk oknum-oknum yang membekingi aktivitas perusahaan,”Pungkasnya.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Berita Terkait

Kelola 8 Bak Sianida, Usman Diduga Operasikan Kembali Tambang Ilegal Kusubibi
Buntut Pembatalan Pemenang Proyek MIN Halbar Rp3,6 Miliar, Dugaan Intervensi Kakanwil Kemenag Malut Jadi Sorotan
Polres Halsel Kantongi Hasil Visum Kasus Penganiayaan Guru PPPK, Tersangka Ditetapkan Pekan Depan
Puskesmas Yaba Dinilai Tak Lagi Memadai, Warga Harap Bupati Bassam Prioritaskan Pembangunan
CV Abdi Nusantara Menang Tender MIN Halbar, Hendra Kariangan: Wajib Hukumnya Kontrak Dijalankan!
Proyek MIN Halbar Rp3,6 M Mandek, Kakanwil Kemenag Malut Buka Suara Alasan Tender Ulang
Amsar Bantah Jual BBM Subsidi, Bungkam Soal Penjualan Dexlite
Akui Timbun BBM, Amsar Diduga Jual Solar BBM Subsidi Dari QR Code 11 Mobil Expedisi

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 07:35

Kelola 8 Bak Sianida, Usman Diduga Operasikan Kembali Tambang Ilegal Kusubibi

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:09

Buntut Pembatalan Pemenang Proyek MIN Halbar Rp3,6 Miliar, Dugaan Intervensi Kakanwil Kemenag Malut Jadi Sorotan

Rabu, 22 Juli 2026 - 04:24

Polres Halsel Kantongi Hasil Visum Kasus Penganiayaan Guru PPPK, Tersangka Ditetapkan Pekan Depan

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:04

Puskesmas Yaba Dinilai Tak Lagi Memadai, Warga Harap Bupati Bassam Prioritaskan Pembangunan

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:50

CV Abdi Nusantara Menang Tender MIN Halbar, Hendra Kariangan: Wajib Hukumnya Kontrak Dijalankan!

Selasa, 21 Juli 2026 - 06:21

Amsar Bantah Jual BBM Subsidi, Bungkam Soal Penjualan Dexlite

Senin, 20 Juli 2026 - 16:18

Akui Timbun BBM, Amsar Diduga Jual Solar BBM Subsidi Dari QR Code 11 Mobil Expedisi

Senin, 20 Juli 2026 - 15:23

Dugaan Bisnis Ampas Emas Ilegal di Halsel Seret Nama Oknum Polisi Berinisial LA

Berita Terbaru