HALUT,Coretansatu.com — Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Tobelo berkapasitas 30 Mega Watt (MW) yang berlokasi di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, hingga kini belum juga beroperasi.
Padahal, proyek ini telah menelan anggaran ratusan miliar rupiah dan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
PLTMG Tobelo dibangun oleh PLN UIP Maluku Papua (MPA) bersama konsorsium kontraktor PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan Korea Electric Power Corporation (KEPCO).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proyek tersebut juga tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021–2030, dengan target penyelesaian dan mulai beroperasi pada periode 2024–2025.
Namun hingga awal 2026, pembangkit ini belum memberikan kontribusi nyata bagi sistem kelistrikan di Halmahera. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait kinerja PLN maupun para kontraktor pelaksana.
Berdasarkan data sistem kelistrikan, daya mampu wilayah Halmahera yang meliputi Tobelo, Malifut, Jailolo, dan Sofifi saat ini hanya mencapai 29,98 MW, sementara beban puncak berada di angka 25,02 MW. Artinya, cadangan daya sangat tipis dan rentan terhadap gangguan.
Dalam kondisi seperti ini, kehadiran PLTMG Tobelo berkapasitas 30 MW seharusnya menjadi solusi strategis untuk memperkuat keandalan pasokan listrik. Sayangnya hingga kini, manfaat tersebut belum dirasakan oleh masyarakat.
Diketahui, proyek PLTMG Tobelo 30 MW dipaketkan bersama PLTMG Sumbawa 30 MW di Nusa Tenggara Barat dengan total pagu anggaran Rp 701,1 miliar. Meski demikian, besaran anggaran khusus untuk PLTMG Tobelo tidak pernah diumumkan secara terbuka.
Dari kontrak gabungan tersebut, PT Adhi Karya menguasai porsi pekerjaan sekitar 52,8 persen angka yang tergolong sangat besar.
Saat awak media mendatangi lokasi proyek, pihak manajemen maupun kontraktor pelaksana tidak berada di tempat.
Informasi diperoleh dari pengawas lapangan, Deni Susanto, yang menjabat sebagai Supervisi Sipil. Ia menjelaskan bahwa PLTMG Tobelo saat ini masih berada pada tahap commissioning.
“Commissioning adalah tahapan pengujian akhir untuk memastikan seluruh sistem dan peralatan telah terpasang dengan benar, aman, dan mampu beroperasi sesuai desain serta kapasitas yang direncanakan,” ujarnya.
Deni juga mengakui tidak mengetahui besaran anggaran proyek tersebut. Ia membenarkan bahwa, proyek ini seharusnya sudah rampung dan beroperasi pada Februari atau Maret 2025.
“Untuk anggaran, saya tidak mengetahuinya. Namun, sesuai perencanaan, proyek ini seharusnya rampung dan beroperasi pada Februari atau Maret 2025. Saat ini, proyek masih masuk tahapan commissioning,” pungkasnya.
Editor : Admin Coretansatu.com









