HALSEL,Coretansatu.com – Nasib puluhan karyawan UD Rio Gam dan UD Bumi Jaya Utama di Desa Samat, Kecamatan Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, kini memantik keprihatinan. Dua perusahaan industri kayu ini diduga meninggalkan para pekerja begitu saja setelah aktivitas operasional berhenti total.
Sejumlah pekerja kepada media ini mengungkapkan bahwa mereka terjebak di lokasi kerja tanpa kepastian upah, bahkan tak memiliki biaya untuk kembali ke daerah asal. Sebagian besar adalah pekerja luar daerah, termasuk dari Sulawesi Tenggara, yang direkrut sebagai mekanik dan operator.
“Kami tidak bisa pulang karena gaji belum dibayar. Setiap hari hanya menunggu ada pembeli besi tua supaya bisa jual barang-barang bekas perusahaan untuk tabung tiket pulang,” keluh Lamusu, seorang mekanik yang kini bertahan hidup dengan memulung sisa material perusahaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut para karyawan, besaran upah yang belum dibayarkan bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga lebih dari seratus juta rupiah. Mereka mengaku merasa benar-benar ditinggalkan tanpa penjelasan dari pihak perusahaan.
Para pekerja menuturkan bahwa perusahaan mulai beroperasi pada 2022 dan berhenti beroperasi total pada akhir 2024, setelah itu manajemen tak lagi memberi kepastian. Baik soal pembayaran gaji maupun kelanjutan aktivitas perusahaan tidak pernah dijelaskan.
Temuan lapangan media ini juga mengarah pada dugaan bahwa izin usaha pemanfaatan kayu perusahaan, yang sebelumnya dikenal sebagai HPH dan kini IUPHHK-HA, memiliki keterkaitan dengan mantan Bupati Halmahera Selatan, Muhammad Kasuba, berdasarkan keterangan sejumlah warga. Warga menyebutkan bahwa area hutan tempat penebangan dilakukan merupakan kawasan yang dikaitkan dengan mantan bupati tersebut.
“Setahu kami, area hutan yang diolah perusahaan itu milik Hi. Muhammad Kasuba,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan. Hingga kini, dugaan tersebut masih menunggu klarifikasi dari pihak terkait.
Karyawan lain, Afen, menambahkan bahwa direktur UD Rio Gam disebut bernama Rudi, seorang keturunan Tionghoa yang menurut mereka berdomisili di Kota Ternate. “Kami tidak tahu harus cari siapa untuk minta kepastian gaji,” katanya, menggambarkan kebingungan para pekerja.
Sementara itu, kondisi hutan di kilometer tiga terlihat rusak parah dengan ratusan kubik kayu kelas dua yang dibiarkan membusuk, sementara alat berat mangkrak tak terurus. Para karyawan berharap pihak perusahaan segera bertanggung jawab, baik terkait pelunasan upah maupun kepastian pemulangan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak perusahaan dan Hi. Muhammad Kasuba masih dalam upaya konfirmasi wartawan.
Editor : Admin Coretansatu.com
Sumber Berita : Taslim Barakati









