SEOPMI Haltim, Menolak Kunjungan Wapres“Kami Tidak Butuh Seremonial, Kami Butuh Keadilan

- Penulis Berita

Selasa, 14 Oktober 2025 - 13:16

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALTIM,Coretansatu.com — Pengurus Sentral Organisasi Pelajar Mahasiswa Indonesia (SEOPMI) Halmahera Timur secara tegas menyatakan penolakan terhadap kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka,ke Kabupaten Halmahera Timur.

Kunjungan yang dijadwalkan untuk meninjau proyek irigasi di Desa Akedaga, Kecamatan Wasile Timur, dinilai tidak menyentuh akar persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Halmahera Timur .

Ketua Umum SeOPMI Malut. Syahnakri Ciliu,menyebut proyek irigasi yang digarap sebagai program strategis nasional itu hanya menjadi etalase kejahatan yang dibungkus dalam pembangunan, sementara kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya: petani justru hidup dalam ancaman ekologis akibat masifnya pertambangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“ Pemerintah berbicara tentang ketahanan pangan, tapi air irigasi kami sudah tercemar akibat aktivitas tambang.Tanah yang dulu subur kini berubah warna, dan sawah-sawah kami perlahan mati,” ujar Ketua Umum SeOPMI Haltim dalam pernyataan yang dirilis, Selasa (14/10/2025).

Pencemaran saluran irigasi di Wasile Timur, yang terjadi pada 13 April 2025, disebut berasal dari aktivitas tambang di sekitar kawasan hulu sungai. Sejak peristiwa itu terjadi, tidak ada langkah tegas dari pemerintah daerah maupun pusat untuk memulihkan kembali kondisi lingkungan. “Negara lebih sibuk membangun panggung kunjungan pejabat ketimbang menegakkan tanggung jawab ekologisnya,” Ujar Ketum SeOPMI

Krisis tersebut diperparah dengan penangkapan 11 warga adat Maba Sangaji pada 18 Mei 2025 oleh aparat Polda Maluku Utara. Mereka ditangkap karena mempertahankan wilayah adatnya dari ekspansi perusahaan tambang PT Position. Hingga kini, Sebelas warga itu masih mendekam di Rutan Kelas II Soasio, Kota Tidore.

Syahnakri Ciliu, menilai peristiwa itu sebagai bentuk pelanggaran HAM berat negara dalam Kriminalisasi Masyarakat adatnya. “Negara melalui aparatnya justru berdiri di sisi modal, bukan di sisi rakyat,” tegas ketua SeOPMI.

Kunjungan Wapres dinilai sebagai “praktek politik simbolik tanpa substansi”. Tidak ada urgensi bagi seorang wakil presiden meninjau proyek irigasi jika persoalan mendasar seperti pencemaran, ketimpangan ekonomi, dan kriminalisasi warga belum dipertanggungjawabkan.

“Proyek strategis nasional kehilangan maknanya ketika irigasi yang ditinjau justru rusak akibat investasi ekstraktif. Ini ironi di tengah derita petani dan masyarakat adat,”

Dalam Tuntutan SeOPMI:

1. Pemerintah segera membebaskan 11 warga adat Maba Sangaji tanpa syarat.

2. Menghentikan seluruh aktivitas tambang yang terbukti merusak lingkungan.

3. Melakukan audit lingkungan secara independen di seluruh wilayah Halmahera Timur.

“Kami menolak kedatangan Wakil Presiden jika tidak disertai agenda penyelesaian konflik agraria, perlindungan masyarakat adat, dan pemulihan lingkungan,” tegas.

Lebih lanjut, SeOPMI menilai bahwa penolakan tersebut bukan reaksi emosional, melainkan bentuk perlawanan terhadap sistem hukum politik dan ekonomi yang selama ini menindas masyarakat akar rumput.

“Halmahera Timur bukan panggung pencitraan. Ini tanah yang sedang berteriak untuk diselamatkan,” tutup Ketua umum SeOPMI Haltim,” Pungkasnya.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Sumber Berita : Arfandi Latif

Berita Terkait

PLN UP3 Ternate Diminta Evaluasi Kepala PLN Bacan Usai Listrik Padam Berulang Di Kecamatan Bacan Barat Utara
Tuntut Transparansi Sungai Kobe, DPP IMM Desak Kementerian PU Evaluasi BWS Maluku Utara
Polsek Gane Timur Musnahkan 225 Liter Bahan Baku Saguer dan 25 Liter Cap Tikus Siap Edar
IMM Malut Desak Kapolres Halsel Tangkap Mafia 50 Ton Solar Subsidi di SPBUN Sayoang
Mengintip Proyek Studio Audio Rp8 Miliar dan Mess Adhyaksa Rp4,8 Miliar di Tengah Riuh Demonstrasi Pegawai Tidore
Ketua HMNI Halsel Diintimidasi Usai Bongkar Dugaan Solar Subsidi 50 Ton Tak Sampai ke Nelayan
HMNI Halsel Bongkar Dugaan Penyimpangan SPBUN Sayoang: Nelayan Dipaksa Berhenti Melaut
Soroti Penyelewengan Solar Subsidi, Formapas Malut Desak Polres Halsel Segera Periksa Pengelola SPBUN Sayoang

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:34

PLN UP3 Ternate Diminta Evaluasi Kepala PLN Bacan Usai Listrik Padam Berulang Di Kecamatan Bacan Barat Utara

Jumat, 10 Juli 2026 - 15:30

Tuntut Transparansi Sungai Kobe, DPP IMM Desak Kementerian PU Evaluasi BWS Maluku Utara

Jumat, 10 Juli 2026 - 06:32

Polsek Gane Timur Musnahkan 225 Liter Bahan Baku Saguer dan 25 Liter Cap Tikus Siap Edar

Jumat, 10 Juli 2026 - 04:58

IMM Malut Desak Kapolres Halsel Tangkap Mafia 50 Ton Solar Subsidi di SPBUN Sayoang

Jumat, 10 Juli 2026 - 02:32

Mengintip Proyek Studio Audio Rp8 Miliar dan Mess Adhyaksa Rp4,8 Miliar di Tengah Riuh Demonstrasi Pegawai Tidore

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:31

HMNI Halsel Bongkar Dugaan Penyimpangan SPBUN Sayoang: Nelayan Dipaksa Berhenti Melaut

Kamis, 9 Juli 2026 - 10:35

Soroti Penyelewengan Solar Subsidi, Formapas Malut Desak Polres Halsel Segera Periksa Pengelola SPBUN Sayoang

Kamis, 9 Juli 2026 - 07:57

Apresiasi Langkah Cepat Polres Halsel dalam Penanganan Dugaan Pencurian, KNPI Prihatin Terduga Pelaku Dibawah Umur

Berita Terbaru