MOROTAI.Coretansatu.com — Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa I menunjukkan respons cepat dalam menangani dampak cuaca ekstrem di Bendung Sangowo Barat, Kecamatan Morotai Timur.
Meskipun diterjang curah hujan tinggi selama tujuh hari berturut-turut, sistem mitigasi dan kontrak kerja yang ketat dari BWS Malut berhasil memastikan penanganan kerusakan berjalan tanpa membebani anggaran negara.
PPK Irigasi dan Rawa I BWS Malut, Muchlis Masud, menjelaskan bahwa fenomena alam tersebut menyebabkan limpasan air yang menggerus sebagian kecil struktur tanah pendukung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kejadian banjir di Bendung Sangowo Kabupaten Morotai diakibatkan oleh curah hujan tinggi dalam tujuh hari terakhir. Hal ini berdampak pada terjadinya limpasan pada perkebunan warga dan kerusakan tanaman kebun kelapa sebanyak 17 pohon,” ujar Muchlis Masud saat memberikan keterangan resmi kepada media, (14/6/26).
Sebagai bentuk tanggung jawab profesional, tim teknis BWS Malut langsung turun ke lapangan bersama PT PP selaku kontraktor untuk melakukan inventarisasi kerusakan pada tanggul tanah kiri bendung sepanjang 20 meter. Langkah cepat ini diambil untuk memastikan perbaikan segera dilakukan tanpa menunda waktu.
Muchlis menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai pembiayaan perbaikan infrastruktur senilai Rp28 miliar tersebut. Pihak kementerian melalui BWS telah mengikat kontraktor dengan jaminan perawatan berkala yang sangat ketat.
“Pekerjaan tersebut masih dalam masa pemeliharaan dari PT PP dan penyedia jasa berkomitmen menyelesaikan perbaikan tersebut. Dari hasil pemeriksaan ke lapangan, perbaikan akan dilaksanakan pada area timbunan tanah kiri bendung serta pemasangan geobag untuk antisipasi banjir lanjutan,” tegas Muchlis.
Di lokasi kerja pada hari ini, progres pemulihan di lapangan sudah menunjukkan perkembangan nyata. Alat berat telah dikerahkan secara optimal untuk memulihkan fungsi tanggul yang terdampak luapan sungai.
“Progress hari ini meliputi pekerjaan pembersihan dan pengukuran. Ekskavator sudah berada di lokasi dan melakukan pembersihan serta pekerjaan tanggul,” pungkas Muchlis.
Langkah taktis dan transparansi informasi dari BWS Malut ini sekaligus menjawab kekhawatiran sejumlah pemilik lahan seputar stabilitas jangka panjang bendungan. Dengan berjalannya masa garansi pemeliharaan secara optimal, infrastruktur vital ini dipastikan akan segera rampung dan berfungsi normal untuk mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Pulau Morotai.
Editor : Admin Coretansatu.com








