HALTENG,Coretansatu.com – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, warga Desa Lelilef-Waibulen justru dihadapkan pada situasi yang memicu keresahan. SPBU Lelilef dilaporkan tutup secara tiba-tiba pada Jumat, 20 Maret 2026, pukul 19:35 WIT tanpa pemberitahuan yang jelas kepada masyarakat.
Penutupan mendadak ini sontak menuai keluhan dari warga yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar, terlebih di momen krusial menjelang Lebaran. Banyak warga mengaku kesulitan mendapatkan BBM untuk kebutuhan perjalanan maupun aktivitas harian.
Sejumlah pengendara yang datang ke lokasi SPBU terpaksa harus berbalik arah dengan kecewa. Mereka menilai pelayanan SPBU Lelilef tidak profesional karena tidak memberikan informasi resmi terkait penutupan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ini mau persiapan Lebaran, tapi BBM malah susah. SPBU tutup tanpa pemberitahuan, ini sangat merugikan,” ungkap salah satu warga dengan nada kesal.
Situasi ini semakin memanas ketika seorang wartawan yang hendak meliput kondisi di sekitar SPBU justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Wartawan tersebut diduga dihalangi oleh seorang pegawai magang saat mencoba mengambil gambar.
Ironisnya, pengambilan gambar dilakukan di luar area SPBU, yang seharusnya tidak menjadi masalah. Namun, pegawai magang tersebut secara spontan melarang aktivitas peliputan tanpa dasar yang jelas.
Tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik yang dilindungi undang-undang. Sikap seperti ini tidak hanya mencederai kebebasan pers, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar terkait pemahaman pegawai terhadap aturan dan etika pelayanan publik.
Warga pun mendesak pihak manajemen SPBU Lelilef agar segera memberikan klarifikasi terkait penutupan mendadak tersebut, sekaligus mengevaluasi kinerja seluruh pegawai, termasuk pegawai magang yang dinilai bertindak di luar kewenangannya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak SPBU Lelilef. Masyarakat berharap ada langkah cepat dan tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang, terlebih di momen penting yang seharusnya dipenuhi dengan kenyamanan, bukan keresahan.









