Sembilan Tahun Dana Desa Raib, Kades Tabahidayah Diduga Korupsi Ratusan Juta Dana Desa

- Penulis Berita

Sabtu, 7 Februari 2026 - 14:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

Sembilan Tahun Dana Desa Raib, Kades Tabahidayah Diduga Korupsi Ratusan Juta Dana Desa

 

HALSEL,Coretansatu.com – Dana Desa (DD) yang dikucurkan pemerintah pusat sejatinya menjadi instrumen utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi rakyat. Namun realitas itu justru berbanding terbalik dengan kondisi yang terjadi di Desa Tabahidayah, Kecamatan Gane Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hampir sembilan tahun Dana Desa dikelola, namun jejak pembangunan nyaris tak kasat mata. Situasi ini memantik kecurigaan publik terhadap Kepala Desa Tabahidayah, Rifaldi Hi. T. Sangaji, yang diduga kuat telah menyalahgunakan Dana Desa untuk kepentingan pribadi.

Minimnya transparansi pengelolaan anggaran, ditambah dengan tidak signifikannya dampak pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat, semakin memperkuat dugaan adanya praktik korupsi Dana Desa yang sistematis dan berulang.

Sorotan paling tajam mengarah pada anggaran ketahanan pangan, yang hingga kini dinilai fiktif. Pada tahun 2023, Desa Tabahidayah menganggarkan Rp100 juta untuk pengadaan 4.000 bibit pala. Namun ironisnya, masyarakat mengaku tidak pernah melihat bibit tersebut, apalagi merasakan hasilnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada tahun 2022, di mana Rp50 juta kembali dianggarkan untuk pengadaan 2.000 bibit pala. Hingga kini, realisasi anggaran itu juga menjadi misteri, tanpa bukti fisik di lapangan.

Dugaan penyimpangan ini mendapat sorotan keras dari Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam Alkhairat (STAIA) Labuha, Muhammad Faisal Kasim. Ia menilai, meskipun pengawasan Dana Desa secara struktural berada di bawah kewenangan Inspektorat Halmahera Selatan, namun kepercayaan publik terhadap lembaga tersebut kini berada di titik terendah.

“Kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Inspektorat hampir runtuh. Mosi tidak percaya sangat menguat. Karena itu, Kejaksaan Negeri Labuha harus turun langsung mengusut dugaan korupsi Dana Desa Tabahidayah,” tegas Faisal, Sabtu (02/07/2026).

Menurut Faisal, Dana Desa yang dikelola selama hampir satu dekade bukanlah jumlah kecil. Jika dikelola sesuai aturan dan peruntukan, seharusnya pembangunan desa sudah tampak nyata, bukan justru stagnan.

“Sembilan tahun mengelola Dana Desa bukan waktu singkat. Kalau anggarannya benar-benar digunakan untuk rakyat, pasti ada bukti fisik. Tapi yang terlihat justru aroma korupsi yang semakin menyengat,” ujarnya.

Lebih jauh, Faisal mengungkapkan bahwa dugaan penyimpangan Dana Desa tidak hanya terjadi di Tabahidayah, melainkan di sejumlah desa lain di Kabupaten Halmahera Selatan. Namun hasil audit yang dikeluarkan kerap tidak mencerminkan fakta di lapangan.

“Dana tersalur, tapi realisasi tidak sesuai. Ironisnya, lembaga auditor seolah tuli dan buta. Karena itu, Kejaksaan Tinggi harus turun langsung melakukan penyelidikan khusus, dimulai dari Desa Tabahidayah,” tandasnya.

Ia menilai, kasus ini sekaligus menjadi ujian serius bagi komitmen pemberantasan korupsi Kejaksaan Negeri Labuha, yang saat ini dipimpin oleh Tommy Busnarma.

“Kasus Dana Desa Tabahidayah adalah ujian integritas Kajari Labuha. Apakah benar-benar serius memberantas korupsi, atau hanya sebatas slogan tanpa tindakan nyata,” pungkas Faisal.

Sementara itu, Kepala Desa Tabahidayah, Rifaldi Hi. T. Sangaji, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi dari wartawan masih terus dilakukan.

Facebook Comments Box

Editor : Editor_Coretansatu

Sumber Berita : Taslim Barakati

Berita Terkait

BWS Malut Dinilai Tak Bertaring Evaluasi PPK, FORMAPAS Bakal Laporkan Proyek Rp. 42 Miliar ke KPK 
Formapas Malut Desak Satgas PKH Tindak Tegas Aktivitas Tambang Yang Melakukan Kerusakan Lingkungan di Pulau Taliabu.
Begini Pesan Ketum di Muscab PKB Halsel: Kader Harus Peka Dampak Ekonomi dan Hadirkan Solusi
Muscab PKB Halteng: Mutiara Tekankan Loyalitas, 3 Nama Calon Ketua Resmi Diusulkan
Komitmen Harita Nickel Kembangkan Talenta Lokal, 10 Pemuda Obi Jadi Mekanik Tambang
Tambang Ilegal Doko Jadi Sarang Miras dan Judi, BARAH Desak Polda Malut Segera Tutup
Polisi Dalami Temuan Mayat di Kawasi, Masyarakat Diminta Tidak Berspekulasi
Langkah Tegas Satgas PKH Dipertanyakan, Ada ‘Pengecualian’ untuk PT Smart Marsindo

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 09:30

BWS Malut Dinilai Tak Bertaring Evaluasi PPK, FORMAPAS Bakal Laporkan Proyek Rp. 42 Miliar ke KPK 

Selasa, 21 April 2026 - 05:49

Formapas Malut Desak Satgas PKH Tindak Tegas Aktivitas Tambang Yang Melakukan Kerusakan Lingkungan di Pulau Taliabu.

Minggu, 19 April 2026 - 14:47

Begini Pesan Ketum di Muscab PKB Halsel: Kader Harus Peka Dampak Ekonomi dan Hadirkan Solusi

Minggu, 19 April 2026 - 09:03

Muscab PKB Halteng: Mutiara Tekankan Loyalitas, 3 Nama Calon Ketua Resmi Diusulkan

Minggu, 19 April 2026 - 08:15

Komitmen Harita Nickel Kembangkan Talenta Lokal, 10 Pemuda Obi Jadi Mekanik Tambang

Sabtu, 18 April 2026 - 03:14

Polisi Dalami Temuan Mayat di Kawasi, Masyarakat Diminta Tidak Berspekulasi

Jumat, 17 April 2026 - 09:45

Langkah Tegas Satgas PKH Dipertanyakan, Ada ‘Pengecualian’ untuk PT Smart Marsindo

Jumat, 17 April 2026 - 08:12

Karyawan PT. BTG Asal Papua Barat di Temukan Tak Bernyawa

Berita Terbaru