HALSEL,Coretansatu.com — Seorang warga sipil asal Desa Madapolo, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh dua oknum anggota TNI, pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIT, di wilayah Desa Kawasi.
Korban bernama La Fahmi mengalami luka lebam dan pembengkakan pada bagian wajah akibat tindakan kekerasan tersebut. Peristiwa itu terjadi di sekitar pantai Kawasi, sesaat setelah speedboat rute Kupal-Kawasi tiba dan menurunkan penumpang.
Berdasarkan keterangan korban, insiden tersebut bermula dari persoalan sepele terkait sebuah toples milik salah satu oknum TNI yang diduga kehilangan penutupnya saat proses bongkar muat barang dari speedboat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awalnya dua anggota TNI berinisial G dan N, yang diketahui bersaudara, turun dari speed. Saat saya membantu mengangkat barang ke pantai, salah satu dari mereka marah karena toples miliknya penutupnya sudah tidak ada,” ujar La Fahmi saat ditemui wartawan.
Mendengar hal tersebut, La Fahmi mengaku mencoba menenangkan situasi dengan menyampaikan permohonan maaf serta menyarankan agar persoalan tersebut disampaikan kepada pihak speedboat untuk diganti.
“Saya sampaikan baik-baik, kalau barangnya hilang nanti bisa disampaikan ke pihak speed untuk diganti. Tapi justru saya dimaki dengan kata-kata kasar. Saya disebut ‘anjing’ dan ‘babi’,” ungkapnya.
Korban mengaku sempat menegur secara lisan agar tidak berbicara kasar. Namun, teguran tersebut justru memicu tindakan kekerasan.
“Saya bilang jangan bicara seperti itu. Setelah itu, kedua oknum tersebut langsung memukul saya dan mengeroyok saya berdua,” kata La Fahmi.
Beruntung, aksi pengeroyokan tersebut tidak berlangsung lama setelah orang tua mertua korban dan sejumlah warga setempat datang membantu dan melerai kejadian. Korban mengaku, tanpa bantuan warga, situasi tersebut bisa berakibat fatal.
“Kalau tidak ada papa mantu dan warga yang datang, mungkin saya sudah mati,” ujarnya.
Atas kejadian tersebut, La Fahmi menyatakan tidak menerima perlakuan kekerasan yang dialaminya dan meminta agar kedua oknum anggota TNI tersebut diproses secara hukum sesuai aturan yang berlaku.
“Saya heran, kenapa ada orang bersikap seperti itu hanya karena merasa sebagai anggota. Saya ini warga sipil, dipukul tanpa alasan yang jelas. Saya minta kasus ini diproses,” tegasnya.
Hingga berita ini dipublish, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI terkait dugaan pengeroyokan tersebut. Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak berwenang untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.
Editor : Admin Coretansatu.com








