11 Warga Maba Sangaji Dianiaya di Dalam Rutan Soasio: Pembebasan Ditanya, Darah Yang Didapat

- Penulis Berita

Senin, 20 Oktober 2025 - 11:47

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TIDORE,Coretansatu.com – Rutan Kelas IIB Soasio, Tidore Kepulauan, kembali menorehkan catatan kelam. Sebelas warga adat Maba Sangaji, yang tengah menjalani masa tahanan atas kasus penolakan tambang nikel PT Position, dilaporkan menjadi korban penganiayaan brutal oleh petugas rutan. Mereka yang seharusnya menjalani hukuman dalam suasana aman dan manusiawi, justru diperlakukan bak binatang.

Informasi kekerasan ini pertama kali diterima dari Sahil Abubakar alias Ilo, salah satu tahanan kasus tambang. Pada Senin, 20 Oktober 2025, sekitar pukul 12.38 WIT, Ilo menghubungi perwakilan tim advokasi untuk menanyakan perkembangan jadwal pembebasan, yang sebelumnya dikabarkan akan dilakukan pada Kamis atau Jumat mendatang. Namun, jawaban petugas rutan justru mengambang, menyebut pembebasan masih menunggu konfirmasi dari pihak kejaksaan.

Tak lama berselang, sekitar pukul 12.45 WIT, suara Ilo kembali terdengar lewat panggilan telepon. Kali ini tidak lagi tenang—penuh kepanikan. Ia mengabarkan bahwa dirinya bersama rekannya, Jamaluddin Badi alias Jamal, baru saja dipukul oleh petugas rutan. Informasi itu diteruskan secara langsung oleh Wetub Toatubun dari Tim Advokasi Anti Kriminalisasi (TAKI).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Wetub, kekerasan itu tidak main-main. Jamal mengalami luka cukup serius di bagian wajah. Foto yang diterima tim advokasi memperlihatkan matanya membengkak, bibir pecah, dan pipi lebam. Sementara Ilo dan beberapa tahanan lain juga dilaporkan mendapat dorongan dan pukulan dari petugas yang seharusnya bertugas menjaga keamanan, bukan menebar teror.

Situasi semakin memburuk. Pada pukul 12.52 WIT, Ilo kembali mengirim pesan singkat—suasana di dalam rutan telah berubah menjadi ricuh. Ia menyebut ada adu mulut antara para petugas dengan sebelas warga adat Maba Sangaji yang masih ditahan di dalam blok. “Di rutan sudah kacau, kami dipukul,” bunyi pesan Ilo yang diteruskan Wetub.

 

Wetub menegaskan bahwa laporan ini bukan sekadar asumsi, melainkan informasi langsung dari dalam rutan. Ia mendesak Komnas HAM, Ombudsman, hingga Kejaksaan segera turun tangan dan melakukan investigasi. “Kami tidak akan diam. Ini pelanggaran berat terhadap martabat manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Soasio, David Lekatompessy, tidak menampik adanya kekerasan. Namun, ia berupaya mengecilkan peristiwa tersebut dengan menyebut bahwa pemukulan hanya terjadi terhadap satu orang tahanan, yakni Jamal. “Iya, memang ada pemukulan terhadap Jamal karena terjadi cekcok dan salah paham. Pemukulannya hanya satu orang saja,” ujar David.

David juga berusaha membalik narasi dengan menyatakan bahwa Jamal yang lebih dulu melakukan pemukulan. Pernyataan ini semakin menimbulkan tanda tanya: jika memang hanya satu tahanan yang terlibat, mengapa suasana dalam rutan berubah ricuh hingga sebelas tahanan melayangkan protes keras?

Meski demikian, David berjanji akan memanggil petugas yang terlibat untuk dilakukan pemeriksaan internal. “Jika terbukti bersalah, akan diberi sanksi administratif,” pungkasnya. Pernyataan yang terdengar normatif dan klise—sementara darah sudah terlanjur menetes di balik jeruji besi.

Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi dalam lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Pertanyaannya kini jelas: sampai kapan warga adat Maba Sangaji harus terus dihukum, bahkan setelah dijebloskan ke balik tembok yang seharusnya memberi perlindungan dari kekerasan.

Facebook Comments Box

Editor : Admin Coretansatu.com

Sumber Berita : Arfandi Latif

Berita Terkait

Diduga Mark-Up, Kejati Diminta Telisik Pengadaan Beras Program Pangan Murah Pemprov Malut
Diduga Terlibat Tambang Emas ilegal, LIN Malut Desak Polda Periksa Kades Kubung
BPBD Halteng Pastikan Penanganan Pasca Bentrok Patani Barat Berjalan Lancar
Langkah Mediasi Belum Membuahkan Hasil, Warga Tuntut Audit Dana Desa dan Copot Kades Maffa
Jelang May DaY, ini Tuntutan PUK SBGN PT. RIM di Halteng
Pusatkan MTQ di Laromabati, Tamsil Jailan : Wujud Implementasi Visi dan Misi Bassam-Helmi
Desak Copot Kades Maffa, Warga Segel Kantor Desa dan Hadang Kunker Bupati Bassam
DPD GPM Malut Desak KeJati Usut Dugaan Korupsi Normalisasi Kali di Kepulauan Sula

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 22:38

Diduga Mark-Up, Kejati Diminta Telisik Pengadaan Beras Program Pangan Murah Pemprov Malut

Kamis, 23 April 2026 - 16:21

Diduga Terlibat Tambang Emas ilegal, LIN Malut Desak Polda Periksa Kades Kubung

Kamis, 23 April 2026 - 14:50

BPBD Halteng Pastikan Penanganan Pasca Bentrok Patani Barat Berjalan Lancar

Kamis, 23 April 2026 - 10:30

Langkah Mediasi Belum Membuahkan Hasil, Warga Tuntut Audit Dana Desa dan Copot Kades Maffa

Kamis, 23 April 2026 - 09:53

Jelang May DaY, ini Tuntutan PUK SBGN PT. RIM di Halteng

Rabu, 22 April 2026 - 14:22

Desak Copot Kades Maffa, Warga Segel Kantor Desa dan Hadang Kunker Bupati Bassam

Rabu, 22 April 2026 - 11:56

DPD GPM Malut Desak KeJati Usut Dugaan Korupsi Normalisasi Kali di Kepulauan Sula

Rabu, 22 April 2026 - 05:24

Buntut Dugaan Tambang Ilegal, Kades Kubung Halsel Disorot Soal Kepemilikan Tromol Emas

Berita Terbaru

Ketua PUK SBGN PT. RIM : M. Alfarisin

Maluku Utara

Jelang May DaY, ini Tuntutan PUK SBGN PT. RIM di Halteng

Kamis, 23 Apr 2026 - 09:53