HALSEL, CM – Di tengah gencarnya pemerintah pusat menggaungkan program “Listrik Masuk Desa” yang menjadi salah satu pilar dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, potret buram ketimpangan energi justru masih nyata terlihat di kawasan timur Indonesia. Asa untuk menikmati terangnya malam hingga kini belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat di Provinsi Maluku Utara, khususnya di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel).
Hingga saat ini, sejumlah desa di wilayah kepulauan tersebut masih terjebak dalam kegelapan yang berkepanjangan. Salah satu wilayah yang seolah terisolasi dari modernisasi energi adalah Desa Loid. Di saat desa-desa lain mulai berakselerasi dengan teknologi, warga Desa Loid justru harus mengurut dada, merasa terlupakan dari peta pemerataan pembangunan energi nasional.
Bagi mereka, pelayanan listrik yang memadai masih menjadi barang mewah yang entah kapan bisa dinikmati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami sebagai warga Desa Loid sangat miris. Program listrik masuk desa ini sebenarnya sangat baik dan menjadi tumpuan harapan kami. Namun, sampai detik ini, Desa Loid belum tersentuh pelayanan listrik sama sekali,” ungkap Sardi, salah seorang warga setempat dengan nada prihatin.
Bagi masyarakat Loid, kehadiran daya listrik bukan lagi sekadar urusan menyalakan lampu penerangan untuk mengusir gulita di malam hari. Lebih dari itu, pasokan listrik adalah urat nadi kehidupan. Tanpa listrik, sektor pendidikan anak-anak menjadi terhambat, pelayanan kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) tidak dapat berjalan optimal, akses komunikasi terputus, dan roda perekonomian desa berjalan sangat lambat.
Menyikapi ketertinggalan yang kian menyudutkan ini, warga Desa Loid melayangkan desakan keras. Mereka meminta Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, hingga Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bersama PT PLN (Persero) untuk segera mengambil tindakan nyata di lapangan.
Warga menuntut agar desa mereka dimasukkan ke dalam skala prioritas pembangunan infrastruktur kelistrikan. Mereka menagih komitmen nyata pemerintah untuk “membangun dari pinggiran”—sebuah janji yang diharapkan benar-benar menyentuh wilayah pelosok dan kepulauan, bukan sekadar menjadi pemanis slogan di atas kertas.
“Kami berharap program ini benar-benar sampai ke Desa Loid. Kami tidak meminta hal yang berlebihan, kami hanya ingin mendapatkan hak pelayanan listrik yang sama seperti masyarakat di desa-desa lainnya di Indonesia,” pungkas warga penuh harap.
Kini, bola panas pembangunan berada di tangan pemerintah dan pihak PLN. Di tengah malam-malam yang sunyi dan gelap, warga Desa Loid hanya bisa terus menanti dan berharap: agar fajar keadilan energi segera terbit, menyapu kegelapan panjang yang selama bertahun-tahun telah membelenggu tanah kelahiran mereka.
Editor : Admin Coretansatu.com









